Wednesday, 4 December 2013

Deathnoote Notice Jepang



Pemuda itu tengah menuliskan sejumlah nama di diary hitamnya ketika bel pintu berdering memanggilnya. Dengan enggan, dia menyimpan buku itu di tempat rahasia yang aman, menguncinya dan membuka pintu rumah. Seorang pegawai negeri yang memakai pakaian dinas menyapanya, �Yagami Raito?�
�Ya, saya sendiri.�
�Saya Fujimoto dari bagian catatan kependudukan dari kantor distrik. Saya mengantar Ikigami untuk anda. Ini surat buktinya, silakan diperiksa.�
Andaikan Kira terkejut, dia tidak memperlihatkan perasaan itu sedetik pun.
Dia memeriksa beberapa file dan selembar kartu yang memuat foto wajahnya beserta waktu kematiannya. 12.00 AM.
�Maaf, tolong tanda tangani di sini!� Fujimoto membuyarkan lamunannya.
Kira menandatangani berkas itu dengan tenang dan masuk ke rumah setelah selesai tanpa berkata apa-apa. Untuk pertama kalinya Fujimoto mengantarkan Ikigami pada seseorang yang tak memperlihatkan raut wajah terkejut, senang atau pun sedih.
Sisa waktu 23. 59. 59
�Siapa tadi itu Light?� tanya ibunya.
�Ah, bukan siapa-siapa. Hanya menanyakan alamat.�
�Oh. Hei, Light, mau ke mana? sebentar lagi makan siang sudah siap.�
�Aku mau kembali ke kamar untuk belajar. Banyak tugas yang harus diselesaikan. Tolong jangan ganggu aku!�
Kira memasuki kamar dan mengunci pintunya. Setelah itu�
�Sialan! Kenapa aku?!� dia membanting barang dan merusak beberapa perabotan. Cermin di meja belajarnya yang tak pernah berbohong memantulkan seraut wajah Iblis yang menderita.
�Light, kau tidak apa-apa?�
�Tidak ada apa-apa, Bu. Hanya terpeleset!�
23. 55. 00
�Huhuhu... sepertinya ada kejadian menarik! Raito mau kau jelaskan padaku?� tanya Ryuku. Kira tidak mempedulikan permintaan atau keberadaan Ryuku. Dia hanya terduduk frustasi sambil menjambak rambutnya dan tenggelam dalam pemikirannya. Ikigami. Sialan, kenapa aku!? Fujimoto�biar kubunuh dia dulu sebelum aku mati. Tidak, tunggu! Tenang. Selama ini aku tak pernah menggunakan Deathnote untuk kepentingan pribadiku. Selain itu, jika aku membunuh pengantar Ikigami, L akan curiga dan jelas akan melacak Ikigami siapa yang diantar sebelum Fujimoto mati terkena serangan jantung. Aku tidak boleh membunuhnya dan aku tidak boleh kalah dari L walaupun hidupku tinggal sehari. Apa kubunuh saja L? Aku tidak rela mati begitu saja! Biar kuajak L ke alam baka. Ya! Tapi aku tidak bisa memastikan apakah L bekerja seorang diri atau tidak. Bisa jadi ada L-L lain yang akan menggantikannya. Lagipula aku tidak mengetahui nama aslinya sedangkan Misa lupa ingatan karena melepaskan hak kepemilikan Deathnotenya. Sialan! Haruskah aku mati tanpa pernah mengetahui identitas musuhku?Bagaimana ini? Apa yang harus kulakukan?
22. 30. 00
Lsedang duduk dengan posisi favoritenya sambil menggigit jari-jarinya. Secangkir kopi hangat dan camilan manis bertebaran di meja kerjanya. Monitor di layar menampilkan berbagai rekaman sejak terbunuhnya agen FBI, penyadapan di rumah Raito, penyekapan Misa dan pengurungan Raito atas kehendaknya sendiri. Lain dari biasanya, hari ini dia tampak gugup�setidaknya itulah yang dirasakan oleh Yagami-San.
Informasi ini memang sangat rahasia namun berkat Watari yang menyampaikannya secara pribadi, aku mengetahui bahwa hari ini Light Yagami mendapatkan Ikigami. Ikigami diantarkan oleh pegawai yang bernama Fujimoto pada jam 12 siang. Jika benar, Light Yagami adalah Kira, saat ini hatinya pasti sedang galau. Ini saat yang tepat untuk menangkapnya. Tapi jika Light adalah Kira, dia tidak akan berbuat kecerobohan pada detik terakhir sekalipun. Tergesa mungkin tapi ceroboh tidak. Sebaliknya, tekadnya untuk membunuhku pasti semakin membesar. Bagaimanapun Kira bersifat kekanak-kanakan dan tidak akan pernah mau kalah. Ini gawat! Lebih dari nyawaku�
�Ryuzaki, ada apa?� tanya Yagami-San. L memandang orang yang diduga sebagai ayah Kira dengan tatapan yang dramatis. Light Yagami sepertinya belum atau tidak akan pernah memberitahu tentang Ikigami pada Yagami-San ataupun keluarganya. Kira atau bukan, dia lebih baik meninggalkan dunia ini sendiri dibandingkan harus betangis-tangis bersama keluarga di saat terakhirnya. Jika dia Kira, dia pasti akan berusaha menemuiku dan membunuhku setelah membaca nama dari wajahku.
�Tidak ada apa-apa. Yagami-San?�
�Ya?�
�Aku mempunyai sebuah hipotesa. Maukah anda melakukan sesuatu untukku?�
�Selama itu untuk menghentikan Kira, apa saja akan kulakukan!�
�Jangan terlalu yakin dulu. Permintaan ini mungkin sangat berat bagi anda tapi hanya anda yang mampu melakukannya�
�....�
22. 00. 00
�Ryuku!� panggil Raito.
�Ya?�
�Apa benar aku akan mati esok pada jam 12 siang?�
�....�
�Hooo, jadi benar, ya?�
�Bukan begitu. Aku hanya tidak mampu menjawab pertanyaanmu. Kau sudah tahu seorang shinigami tidak bisa membocorkan rahasia mengenai sisa hidup pemegang Deathnote karena tidak tahu apa yang akan dilakukannya jika si pemegang mengetahui sisa waktunya.�
Benar. Jika L mengetahui aku mendapatkan Ikigami, dia mungkin akan menghentikanku dengan segala cara karena takut apa yang akan kulakukan pada detik-detik terakhirku ini. Aku akan mati tapi aku menang! (Kira tersenyum Iblis).
�Terlambat, Ryuk! Orang yang datang tadi adalah pengantar Ikigami. Kartu ini disebut Ikigami yang memberitahukan pada penerimanya bahwa dia akan meninggal 24 jam kemudian. Jadi apa bedanya sekarang apakah aku mengetahui sisa waktu hidupku atau tidak? Kartu ini sudah memberitahukannya. Ikigami belum pernah meleset dan salah orang. Bagaimanapun, posisiku sekarang adalah sebagai pemegang Deathnote yang mengetahui sisa hidupnya. Mau tahu apa yang akan kulakukan selanjutnya?�
�Hoooo... ini menarik!� Ryuku tersenyum puas. �Aku jadi tidak sabar menanti.�
21. 00. 00
�Gawat, televisi memberitakan bahwa para penjahat dari seluruh dunia meninggal terkena serangan jantung dalam waktu dekat ini!� teriak Matsuda mengabarkan.
Yagami-san terpana. �Ryuzaki, bagaimana kau bisa mengetahui hal ini?� tanyanya.
Dia menantangku. Sekarang, 99,99999% aku yakin Light Yagami adalah Kira. Aku tidak mempunyai bukti untuk menangkapnya. Dia menantangku untuk menghentikannya bagaimana pun caranya dan dia akan menang. Bagaimana ini? Nyawa manusia lebih berharga dibandingkan egoku. Tapi membunuhnya sama saja kalah. Masih ada kemungkinan Kira yang asli mengetahui tentang Ikigami dan kecurigaanku pada Light, lalu melakukan pembunuhan besar-besaran ini untuk memperbesar rasa curiga itu. Kemungkinan itu di bawah 1% tapi tetap ada. Jika aku membunuh Light sementara dia bukan Kira, maka aku kekurangan tenaga dan otak untuk menangkap Kira. Dan kalau aku melakukan kesalahan fatal itu, aku tidak pantas lagi mengejar Kira dan dapat dibilang aku sudah kalah.
�Ryuzaki, korbannya sudah mencapai seratus orang dan terus bertambah! Kita harus menghentikannya!� Aizawa terlihat panik.
�Yagami-san, Aizawa, Matsuda, dan Mogi, kemarilah aku ingin bicara!� perintah L.
20. 40. 17
Bagaimana L? Apa yang akan kau lakukan? jika kau tidak menghentikanku, korban akan terus bertambah. Aku tak mempunyai waktu untuk menuliskan waktu kematian dan sebab kematian penjahat yang kubunuh tapi ada beberapa yang kusiapkan agar rencanaku berjalan dengan lancar. Setelah ini aku akan menemuimu dan membunuhmu.
20. 19. 23
�Menelepon anakku dan mengurungnya kembali? Apa maksudmu Ryuzaki! Kau masih mencurigai anakku sebagai Kira?� Yagami-san berteriak emosi.
�Tidak, bukan mengurungnya di dalam suatu tempat. Melainkan membiarkannya tetap di sini dan tidak boleh keluar lagi dari tempat ini sebelum jam 12 siang esok. Selain itu dia harus digeledah dan tidak diperkenankan memegang alat tulis dalam bentuk apa pun. Kita tahu Kira membunuh korbannya dengan Deathnote dan jika dugaanku benar bahwa Light Yagami adalah Kira, aku akan mati dalam waktu dua puluh tiga hari setelah aku dan Light bertemu lagi. Itu tentu kalau dia menang dan berhasil menuliskan namaku.�
Matsuda, Aizawa dan Mogi tampak terkejut dan tidak mengerti.
�Tolong jelaskan, Ryuzaki! Jika Raito-kun adalah Kira, bagaimana dia bisa mengetahui nama aslimu sedangkan kami sendiri pun tidak tahu.�
�Ya, walaupun shinigami pemilik buku Deathnote yang berhasil kita temukan tidak banyak membantu, aku menduga seperti Kira kedua, Kira pertama juga dapat mengetahui nama seseorang dengan hanya melihat wajahnya. Tapi mungkin untuk mempunyai kemampuan khusus seperti itu, Kira harus merelakan sesuatu yang terlalu berharga sehingga dia menampik kemampuan tersebut. Benar, kan, shinigami?� L bertanya pada Rem.
�Kalau kau sudah tahu, aku tidak perlu menyembunyikannya lagi. Kemampuan itu disebut mata shinigami.� jawab shinigami Rem.
�Selain itu, kondisinya sekarang berbeda dan Kira akan melakukan apa pun untuk mempunyai kemampuan itu.�
�Kira! Kira! Kau berbicara seolah Light-kun sudah pasti Kira!� protes Matsuda.
L mengaduk cangkir kopinya. �Hal itu akan kita ketahui setelah 23 hari dari sekarang Matsuda-san. Apakah aku akan mati atau tidak.�
Dikurung? pikir Yagami-san. Jam 12 siang esok? 23 hari lagi? Mata shinigami? Sesuatu yang berharga?
Yagami-san tampak pucat. �Ryuzaki, tolong jawab dengan jujur! Apakah anakku akan mati esok?�
Aizawa, Mogi, dan Matsuda tampak terkejut dengan pertanyaan itu.
�Anda memang cerdas Yagami-san.� Kata L dengan mulut penuh kue cake. �Aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya. Lagipula hanya Raito-kun yang berhak memberitahukan sisa hidupnya pada Anda dan keluarganya.�
�Sisa hidup?� Aizawa dan Matsuda berseru serempak. �Apa maksudmu, Ryuzaki? Apakah Raito-kun sudah dikendalikan Kira?�
�Tidak, bukan!� Yagami-san yang menjawab. �Jika anakku bukan Kira, Kira yang asli merasa tidak ada gunanya membunuh anakku karena dia membantu mengalihkan perhatian L pada dirinya. Lagipula, jika Kira sudah menuliskan nama anakku di dalam Deathnote yang lain, kurasa dia tidak akan berbaik hati memberitahu sisa hidup Light.�
�Lalu apa, Komandan?� tanya Matsuda.
�Tampaknya anakku mendapatkan Ikigami.�
Ketiga anak buahnya terkejut. �Benarkah itu, Ryuzaki? Aizawa meminta konfirmasi.
�Ryuzaki, Raito-kun ada di luar dan ingin bertemu!� sela Mogi-san.
�Baiklah, persilakan dia masuk!�
18. 35. 14
Raito memasuki kamar hotel itu dan mendapatkan suasana mencekam yang penuh ketegangan menyelimutinya.
�Haha.. ada apa ini? Kenapa semuanya diam? Sepertinya kalian sedang berbicara sesuatu sebelum aku datang dan aku mengganggunya, ya?� ujarnya cukup santai untuk orang yang sisa hidupnya tinggal delapan belas jam lagi.
Aizawa mengepalkan tangan dan menguatkan diri untuk melangkah maju. �Raito-kun, maaf, tapi saya harus menggeledah anda untuk memastikan anda tidak membawa benda berbahaya termasuk alat tulis dalam bentuk apapun.�
�Tunggu dulu. Ada apa, hei!�
�Tolong rentangkan kedua tangan dan kaki anda!� perintah Mogi-san dengan tegas. Matsuda memejamkan mata dan tampak gemetar. Dia tidak percaya. Aizawa-san selesai menggeledah dan menyita alat tulis yang biasa dibawa Yagami Raito.
�Itu cuma pena, Aizawa-san. Kau akan menyitanya?�
Aizawa-san menelengkan kepalanya pada Raito dan berkata misterius, �Pena pun bisa membunuh, Raito-kun.�
�Ayah, ada apa ini? Ryuzaki! ini semua rencanamu, ya? Kau masih mencurigaiku sebagai Kira?� saat itu L yang sedang duduk di kursi putar dengan gayanya, memutar kursi dan berkata, �Katakan padaku, Kira, apakah kau bisa membaca namaku sekarang?�
L****** *****
Jelas sekali, sisi lain Yagami Raito tersenyum kejam di dalam sana.
�Namamu? Apa maksudmu?� Raito menatap ke sekeliling seolah berusaha mencari inspirasi dan pemahaman. Dia menatap ayahnya, Matsuda, Mogi-san, Aizawa-san dan Rem.
�Oh! Ryuzaki, jadi kau berpikir aku mempunyai kemampuan seperti Kira kedua yang mengetahui nama seseorang dari wajahnya, begitu? Sekarang, katakan padaku, jika kau mengira aku Kira, mengapa aku memerlukan kemampuan itu sekarang dan tidak memanfaatkannya dari dulu?�
L bangkit dari kursinya, berjalan mengelilingi Yagami Raito dan tiba-tiba memasangkan borgol panjang di tangan kiri Yagami dan di tangan kanannya sendiri.
�Karena kau baru saja mendapatkan Ikigami!� jawab L. Raito tiba-tiba meninju Ryuzaki.
�Kalau kau tahu, haruskah kau mengatakannya di depan ayahku!?� teriaknya marah.
�Raito! Ryuzaki tidak memberitahuku. Aku tahu sendiri.�
�Dengan petunjuknya, tentu!� sahut Raito sarkatis. Ryuzaki yang terjengkang jatuh tiba-tiba melompat dan menendang wajah Raito.
�Satu dibalas satu�
�Hei, kalian, sudah hentikan!� Aizawa yang berbicara.
16. 25. 47
�Ini menggelikan!� ujar Raito sambil mengangkat tangannya yang terborgol. �Ryuzaki, biar kutebak�Kau berpikir aku sebagai Kira yang menerima Ikigami akan merelakan apa saja untuk mempunyai kemampuan seperti Kira kedua untuk mendatangi dan membunuhmu. Kau tidak bisa menolak kedatanganku karena jika kau menolak, aku akan membunuh penjahat-penjahat di luar sana atau siapa saja dengan Deathnote yang lain. Tapi penjahat-penjahat itu terus berguguran sejak aku datang sampai sekarang��
�Ya, tapi frekuensinya telah berkurang. Rupanya kau cukup cepat juga dalam menulis, ya?� sela Ryuzaki.
�Dan kau tidak bisa mengurungku di suatu tempat karena bagaimana pun aku penerima Ikigami dan berhak bebas di hari terakhirnya. Kau tidak yakin seratus persen bahwa aku Kira. Jika kau yakin, kau pasti sudah mengikat kedua tangan dan kakiku serta menutup mataku seperti yang kau lakukan pada Misa. Tapi apa yang kau lakukan sekarang ini sama saja dengan mengurungku! Apa kau pikir sebagai orang yang dingin, aku tidak mau mengucapkan salam perpisahan pada Ibuku dan Sayu?�
�Jika ingin mengucapkan salam perpisahan, kau bisa menelepon mereka. Kau bisa saja menelepon nomor lain atau yang mengangkat adalah orang lain dan hanya perlu meneriakkan namaku sehingga kaki tanganmu bisa membunuhku. Itu memang mustahil karena Kira tidak akan menyerahkan sembarang Deathnote pada orang lain. Tapi sebagai penerima Ikigami, aku tidak bisa menghalangimu untuk mengucapkan salam perpisahan pada keluargamu. Aku akan mengambil resiko itu.�
Yagami-san, Matsuda, Aizawa dan Mogi mendengarkan debat mereka dalam keadaan yang canggung.
�Ah, lupakan! Kalau aku menelepon mereka, mereka tentu ingin bertemu denganku. Ayah, tolong bilang pada Ibu dan Sayu kalau aku tidak bermaksud pergi diam-diam. Hanya saja Ryuzaki menghalangiku.�
�....�
�....�
�....�
�....�
�Light-kun, kau pandai bersandiwara. Kau tahu kalau sejak dulu aku mencurigaimu sebagai Kira dan kau tentu sudah menduga bahwa aku akan melakukan ini jika kau datang ke sini tidak peduli besok kau akan mati. Jika sudah tahu, mengapa kau tetap datang?�
Raito tersenyum. �Aku memang ingin menghabiskan sisa terakhir hidupku untuk menangkap Kira. Karena itu, aku tidak berkeberatan diborgol seperti ini. Hanya saja sebagai orang yang diakui sebagai teman pertamamu, aku sedikit kecewa karena kau tidak mempercayaiku di saat terakhir hidupku.�
�Ah, Light-kun! Sejak kapan kau suka melodramatis begitu? Kira atau bukan, kau tetap temanku. Kira dapat mengendalikan tingkah laku korbannya selama 23 hari setelah namanya ditulis dalam Deathnote. Jika tidak ada penjahat yang meninggal pada hari ke 24, itu sudah cukup membuktikan bahwa kau adalah Kira. Aku sudah menerangkan hal ini pada Yagami-san dan yang lain.�
�Dan jika ada yang mati?� tanya Raito.
�Berarti kau bukan Kira. Sesederhana itu.� jawab Ryuzaki.
�Dan bagaimana perasaanmu saat itu jika mengenang kembali hari ini?�
L tersenyum. �Ikigami memang hebat! Kau benar-benar suka mendramatisir suasana, sekarang! Aku sendiri pun tidak berani memikirkan hal itu karena selama 23 hari berikutnya atau kalau boleh kukatakan, selama sisa hidupmu.... aku tidak boleh bernapas lega walaupun kau terborgol, karena kau akan mengambil kesempatan sekecil apa pun untuk menuliskan namaku. Bisa jadi kau sudah atau akan menuliskan namaku dan sedang tertawa dalam hati sekarang, karena tahu aku akan segera menyusulmu.�
�Ooohh... dan karena itu kau sengaja membiarkan pena itu tergeletak di meja begitu saja? Kau sudah memperingatkanku agar tidak menyentuh alat tulis dalam bentuk apa pun seperti spidol, lipstik, tip-ex atau apapun. Jika aku menyentuhnya, kau, ayah, Aizawa, Matsuda, dan Mogi-san akan berasumsi aku akan membunuhmu sehingga salah satu dari mereka akan menghentikanku? Sarung pistol mereka tidak terkancing dan salah satu mereka akan menembak sebelum aku sempat menulis, kan? Sepertinya kau sungguh tidak sabar menunggu temanmu mati, Ryuzaki.�
�Teman bisa digantikan tapi nyawaku cuman satu, Raito-kun!�
�KALIAN HENTIKAN! Raito, jika kau mengambil alat tulis dalam bentuk apa pun, ayah sendiri yang akan menembakmu!�
�....� (Raito)
�....� (Ryuzaki)
�Aku tahu ini menyedihkan untukmu tapi ayah percaya kau bukan Kira! Jika Kira membunuh pada hari ke-24 nama baikmu akan bersih dan kau tidak akan penasaran di alam sana.�
�Ayah!� seru Raito
�Ya, ayah tahu harapan ini sungguh bodoh! Tapi ayah berharap Kira akan membunuh pada hari ke-24 sebelum ayah mengabdikan sisa hidup ayah untuk mengejar dan menangkapnya!�
00. 00. 00
Yagami Raito meninggal dalam keadaan terantai di samping Ryuzaki tepat pada pukul dua belas siang sesuai yang diperkirakan Ikigami. Kematian dan pengorbanannya untuk memelihara UU Kemakmuran Negara agar masyarakat lebih menghargai nilai-nilai kehidupan mendapatkan simpati dari masyarakat. Sejam sebelum kematiannya, Raito tidak banyak bicara dan bahkan mengacuhkan permintaan terakhir dari ayahnya. Konon, Lmenutup mata Yagami dan untuk pertama kalinya mengakui Raito sebagai dirinya sendiri, �Kira atau bukan, setelah urusanku selesai dengannya, aku akan menghancurkan UU tersebut!�
Tapi tiga hari kemudian, L dikejutkan dengan kedatangan shinigamibernama Ryuku yang memberitahunya bahwa dia adalah pemilik Deathnoteberikutnya. Ryuku membawa surat dan pesan dari Raito.
L kau benar! Aku adalah Kira. Sejak mendapatkan Ikigami, aku bertanya-tanya apakah kau akan membunuhku jika aku mulai membunuhi orang-orang tidak bersalah? Aku rasa jawabannya adalah, ya. Walaupun tidak mempunyai bukti jika aku adalah Kira, kau akan membunuhku walaupun itu berarti kau kalah. Tapi jika aku mulai membunuhi orang-orang yang tidak bersalah, aku sudah kalah dulu darimu sebelum kau kalah dariku. Tidak, aku tidak bisa melakukan itu. Deathnote bukanlah permainan. Sejak awal, aku tidak pernah menggunakannya untuk kepentingan pribadiku. Aku menggunakannya untuk menciptakan dunia yang lebih aman dan damai�tidak ada bedanya dengan UU Kemakmuran Negara dan Ikigami. Aku menggunakannya untuk membunuh orang-orang yang pantas mati dan membawa kehancuran bagi masyarakat. Beberapa dari orang yang kubunuh terdapat penerima Ikigami yang melakukan kejahatan di hari terakhir hidupnya. Deathnote seperti Ikigami dapat menjadi kartu kehidupan atau kematian bagi pemiliknya. Luar biasanya, aku mendapatkan kedua kemewahan ini dalam rentang waktu hidupku yang singkat. Jika kau berpikir Deathnote hanya membawa kehancuran bagi dunia ini, maka hancurkanlah bersamaan dengan UU tersebut. O, ya, aku lupa mengatakan bahwa Deathnote dapat dirusak, dibakar, atau dihancurkan dengan cara apa pun tanpa perlu takut dengan konsekuensi kematian atasnya. Tidak, tidak, aku tidak berbohong dan menjebakmu agar kau mati. Kau masih tidak percaya? Kalau begitu simpan sajalah Deathnote itu di tempat yang sangat rahasia atau dijaga ketat.
Atau pergunakanlah. Jika kau percaya padaku dan memilih untuk membakar Deathnote itu maka camkanlah hal ini � saat ini terdapat empat buah Deathnote di dunia ini. Satu milik Ryuku, satu milik Rem, satu yang sedang kau pegang dan satu yang disimpan oleh tim penangkap Kira palsu. Tapi untuk masa yang akan datang, kita tidak pernah tahu berapa banyak Deathnote yang akan jatuh ke Bumi dan berapa banyak shinigami yang datang. Jika salah satu dari Deathnote itu terjatuh di tangan yang salah, maka kau akan tahu apa akibatnya. Tidak ada cara lain melawan penjahat yang menggunakan Deathnote dengan Deathnote itu sendiri. Jadi, menurutku, jika kau tidak ingin menggunakannya sekarang, simpanlah sendiri sampai saat itu tiba�walaupun aku berharap saat itu tidak akan pernah tiba.
Satu hal lagi, jika kau mengganggap aku sebagai temanmu, tolong pergunakanlah Deathnote satu kali saja pada hari ke 24 setelah aku mati. Bunuhlah seorang penjahat sehingga ayahku dapat lega mengetahui kalau aku bukan Kira. Ryuku tidak mau diajak kerja sama soal ini. Satu-satunya yang menjadi kecemasanku selama ini adalah bukan ketakutan untuk membunuh ayahku sendiri jika terpaksa tapi jika kedokku terbongkar dan ayah serta keluargaku mengetahui bahwa aku adalah Kira. Sekali lagi, aku tidak menjebakmu karena peraturan 13 hari bahwa harus menggunakan Deathnote semenjak penggunaannya yang pertama adalah bohong.
Dan terakhir, persaingan di antara kita, akulah pemenangnya L. Kalau kau berkeberatan, kau bisa menanyakan pada Ryuku mengenai alasannya. Tapi jika kau tidak terima maka anggap saja seri.
Your enemy
Kira
Ryuku menjelaskan bahwa Raito sudah menyisipkan beberapa potongan Deathnote ke dalam kulitnya kalau-kalau dia mendapatkan kesempatan untuk menuliskan nama L. Dia tidak mengambil resiko itu karena akan menghancurkan hati ayahnya yang akan mengetahui bahwa dia adalah Kira. L menjadi pemilik Deathnote berikutnya karena Ladalah orang pertama yang menyentuh lembaran kertas yang disisipkan di kulit Raito. Ryuku dan Raito melakukan pertukaran mata. Mengenai motifnya, Ryuku tidak tahu karena untuk apa melakukan pertukaran mata jika kau tidak mau atau bisamembunuh korbanmu? Ryuku berasumsi bahwa Raito melakukan itu karena dia tidak puas mati sebelum mengetahui nama asli L. Seharusnya Raito meninggal sebelum perkiraan Ikigami�tepat � dari sisa umurnya setelah melakukan transaksi mata. Tapi ada satu hal yang dilakukan Raito agar kematiannya tepat seperti perkiraan Ikigami. Itu adalah menuliskan namanya sendiri beserta waktu kematiannya di dalam Deathnote. Raito merancang waktu kematiannya dengan memperhitungkan waktu kematian Ikigami dan � sisa hidup yang terbuang dari transaksi mata. Sampai kematiannya pun Kira tidak pernah berhenti bereksperimen.
Deathnote, bagaimanapun berasal dari dunia shinigami sedangkan kapsul Ikigami hanya memiliki kekuatan manusia jadi Deathnote dapat membantu memperpanjang hidup manusia selama 23 hari ke depan andaikata manusia itu terlanjur meminum racun apapun seperti sianida yang akan membunuhnya dalam hitungan menit atau bahkan detik.
Inilah yang disebut kartu kehidupan bagi Raito dan kartu kematian bagi L. Inilah alasan Kira berkata bahwa dia adalah pemenangnya. Jika mau membunuh L, dia dapat terus hidup melewati jam 12 siang dan berujar dengan tenang, �Tampaknya Ikigami itu salah orang� atau semacamnya. L yang kebingungan tidak mempunyai pilihan lain jika Raito memintanya untuk membebaskannya. Dan setelah lepas dari pengawasan, Raito dapat dengan mudah membunuh Lwalaupun 23 hari lagi dia akan mati dan ayahnya tetap tidak dapat menghilangkan seratus persen kecurigaan bahwa anaknya adalah Kira.

Lirik I Wish - One Direction



He takes your hand I die a little
I watch your eyes and im in riddle
Why can u look at me like that?
When you walk by I try to say it
But then I frezze and never do it
My tongue get tied
The words get trapped
I hear the beat of my heart
Getting louder whenever im near you
But I see you with him slow dancing
Tearing me apart cause you don�t see
Whenever you kissing im breaking
Oh how I wish that was me
He looks at you the way that I would
Just all the thing I know that I could
Of only time could just can turn back
Cause I got three little word that ill always been dying to tell you
When my hand on your waist and we dancing in the moonlight
I wish it was me than you call later on
Cause wanna say good night

Tuesday, 3 December 2013

Cerpen Pendidikan Terbaik



Yogyakarta 13 September 2008
�Eh Tia kok sendirian aja?� Sapaku.
�Iya nih, biasa lagi buat penelitian. Gak penting banget gila!� Jelasnya
�Lo gak boleh gitu lah, itu kan syarat kelulusan juga. Gue temenin ya?�
�Yaahh.. Jangan cuma nemenin, bantuin lahh! Hahaha.�
�Ah dasar! Eh sebentar ya, gue mau pesen makanan dulu.�
�Oke deh.�
Old but Gold
Perutku terasa lapar setelah seharian berada di Kampus yang membosankan ini. Setiap hari ada saja tugas-tugas yang menyebalkan yang diberikan oleh para dosen disini.
�Bu, beli nasi kucing dong. Nasinya dua, gorengannya bakwan aja, ususnya satu, sama ati ampelanya satu ya Bu.�
�Apa lagi Mas?�
�Cukup itu saja Bu.�
Dompetku pun tak mendukung aku memborong angkringan murah yang ada di Kantin Kampusku. Lalu aku kembali menghampiri Tia yang semakin terlihat kacau di depan Laptop.
�Lama banget sih de. Kemana aja sih lo?� Tanya Tia sedikit kesal.
�Beli Nasi Kucing hehehe.� Jawabku malu.
�Bungkus aja itu, ikut gue yuk!� Ajak Tia secara tiba-tiba.
�Tapi kan��
�Udahhh cepet gak usah pake lama deh.� Paksa Tia sembari menarik tanganku yang baru saja ingin memulai suapan pertama.
Tia menarikku sampi ke lapangan parkir di belakang Kampusku. Kemudian, Tia menaiki sebuah mobil sport mewah yang berada tepat di samping motor bututku. Kalau saja sebelumnya aku tahu itu adalah mobilnya, aku pasti tidak akan memarkir motorku tepat di sebelah mobilnya. Malu aku, mobilnya begitu mewah dan berbanding terbalik sekali dengan motorku yang belum sempat aku cuci selama 1 bulan. Tiba-tiba Tia mengajakku untuk menaiki mobilnya.
�De, cepet naik!� Ajak Tia
�Tapi ini kan motor gue Ti.� Jelasku.
�Ya udah tinggalin aja dulu, panas tau naik motor.�
Matahari memang sangat terik. Dengan sedikit rasa berat hati, aku pun menerima ajakkan Tia. Baru kali pertama aku diajak pergi ke suatu tempat oleh teman perempuan secantik Tia. Entah kemana aku akan dibawa pergi olehnya, aku hanya duduk manis di sebelahnya dan menikmati indahnya perjalanan.
Kami pun tiba di sebuah Restaurant ternama di sekitar Malioboro. Ternyata Tia ingin mengajakku makan siang. Kenapa tidak makan siang di Kantin Kampus saja? Tanya batinku heran. Baru saja kami turun dari mobil, seorang waiter menghampiri kami berdua dan mengantarkan kami ke tempat duduk yang sudah dipesan sebelumnya. Aku pun bertanya-Tanya.
�Loh kok kita duduk di sini sih Ti? Bukannya ini udah dipesan sama orang lain?� Tanyaku dengan penasaran.
�Gue juga gak tau de, waiter nya kan yang nyuruh kita duduk di sini?�
�Beneran?�
Apakah benar Tia tidak memesan tempat ini? Lalu siapa? Tapi, apa tujuannya kalau memang dia yang benar memesan tempat ini. Aku menatap matanya, aku sedikit curiga. Aku tahu dia tidak bisa berbohong, tak pernah perbohong malah. Sudahlah, hal seperti ini tidak begitu penting. Lagipula dia hanya mengajakku makan siang.
Aku kembali melihat daftar menu makanan. Aku baru tersadar ketika melihat daftar harganya, uangku tak cukup. Aku bingung setengah mati.
�Tia, gue��
�Kenapa lo?�
�Ituu.. anuuu..� Kataku gugup.
�Apaan sih? Yang jelas ngapa?�
�Uang gue gak cukup Ti buat makan.� Jelasku.
�Elahhh kirain apa. Gak usah dipikirin, pake uang gue dulu aja.�
�Gak enak gue sama lo, gue pulang aja apa?�
�Lah lo gak ngehargain gue dong?�
�Tapi��
�Tapi, tapi, tapi terus dari tadi! Capek gue dengernya.�
�Hahahaha.� Balasku dengan tawa.
Lalu kami kembali melihat daftar menu makanan. �Aku udik sekali� Pikirku. Tidak ada satu pun menu yang aku kenal di dalam daftar ini. Nasi dan air putih, itu saja yang aku kenal. Aku pun diam, berpikir sejenak. Tiba-tiba Tia menegurku.
�Kok diem aja? Lo mau pesen apa?� Tanya Tia.
�Sama kaya lo aja deh Ti.� Jawabku dengan tegas.
�Mas, saya pesan paket ini ya untuk 2 porsi.� Ucap Tia sembari menunjukkan menu makanan yang kami pesan.
�Ada lagi Mbak?� Tanya seorang waiter.
�Sudah cukup itu saja.�
I�m Sorry for Being Like This
Setelah menunggu cukup lama, makanan yang kami pesan akhirnya datang. Akan tetapi, hatiku dipenuhi oleh rasa bimbang antar menikmati makanan yang lezat dan perasaan malu yang tinggi karena uang tidak mencukupi untuk memesan satu menu pun di Restaurant ini.
Tidak ada sepatah dua kata pun keluar dari mulut kami berdua. Aku bingung ingin memulai pembicaraan seperti apa. �Kalau nanti salah ngomong, kan gak lucu.� Ucapku lirih. Sepertinya Tia mendengar perkataanku, ia langsung bertanya.
�Hah kenapa? Lo ngomong apa barusan?� Tanya Tia.
�Enggg.. enggak kok.� Balasku gugup.
Dan kami pun kembali diam. Suasa makan siang kali ini begitu flat. Di dalam diriku penuh perasaan gugup, entah mengapa demikian. Tak pernah aku rasakan hal ini sebelumnya. �Aneh sekali, apakah makanannya terlalu enak atau memang sedang lapar?� Pikirku.
�PYAAARRR!�
Seorang waiter paruh baya dengan tidak disengaja menjatuhkan secangkir kopi panas tepat di atas meja kami. Hampir pecahan cangkirnya mengenai wajah Tia.
�Eh Mas, hati-hati dong! Bahaya ini pecahannya bisa masuk mata.� Geramku kesal.
�Iyy.. Iyy.. Iya Mas maaf, semuanya akan kami ganti.� Balas seorang waiter paruh baya itu dengan wajah pucat.
�Udah gak usah Mas, kita juga udah selesai makan kok. Udah De, gue juga baik-baik aja kok.� Tia mencoba Manahan amarahku.
�Bener lo gak kenapa-kenapa?� Tanyaku cemas.
�Iya. Lo kenapa sih nanyanya segitunya banget? Santai aja kali. Hahaha� Balas Tia sedikit bergurau dengan maksud menenangkanku.
�Nanti gue yang disalahin sama keluarga lo, Ti. Ya udah lanjut makan yuk.� Ujarku sedikit mengalihkan pembicaraan.
Kami pun lagi-lagi kembali diam. Aku melihat Tia, dia tidak begitu serius makan akan tetapi herannya kenapa tidak ada pembicaraan di antara kami. Aku menatap Tia, Tia pun kembali menatapku. Lalu aku kembali makan, Tia pun demikian. Terus seperti itu sampai suapan terakhir habis. Aku kembali menatap Tia.
�Kenapa?� Tanya Tia.
�Gak kok.� Balasku dengan senyum, Tia juga membalas senyumanku.
�Kalau melihatnya sedekat ini, Tia manis juga ya.� Tiba-tiba terbesit kalimat seperti itu di dalam benakku. Aku sedikit tersenyum. Lalu Tia membalas lagi senyumanku, padahal aku tidak punya maksud untuk senyum kepadanya. �Tak apa lah kalau yang senyum semanis dia.� Ucapku dalam hati. Dan aku beranikan diriku untuk memulai pembicaraan kali ini.
�Ayuk Ti kita pulang. Tugas lo belum selesai kan?�
�Sebentar lagi aja. kalau pulang sekarang gue di rumah sendiri kan orangtua gue lagi pada kerja, mereka juga pulangnya malem banget, gue bete sendirian lama-lama di rumah, De.� Terus terang Tia.
Detik demi detik kami lewati dengan saling berbicara tanpa henti. Tidak terasa ketika aku melihat jam tanganku waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
�Udah jam 5 sore Ti.�
�Ya udah kita pulang yuk. Eh sebentar De.�
�Ada apa?�
�Sebentar.�
Tia menahanku untuk pulang, ia terlihat sibuk sekali membuka-buka tas bawaannya. Lalu Tia mengeluarkan sesuatu yang terbungkus rapih dengan kertas kado bergambar tokoh kartun Doraemon kesukaanku dari dalam tasnya.
�Itu buat siapa? Emak gue? Hahaha.� Tanyaku sambil bergurau.
�Buat lo lah.� Jawabnya singkat, padat, tetapi tidak terlalu jelas maknanya yang dapat aku saring.
�Buat gue? Gue gak ulang tahun kok Ti� Jelasku polos.
Sebenarnya ada apa dia tiba-tiba Tia mengasihku hadiah? Apakah kado ulang tahun yang terlambat? Aku memang sejak duduk di bangku sekolah menengah atas sudah dekat dengannya, tapi dari dulu memang Tia tidak pernah memberiku hadiah. Mengapa sekarang demikian?
�Gue suka sama lo De semenjak lulus-lulusan SMA.� Jelas Tia.
�Hah?� Aku hanya bisa terdiam.
Kami saling menatap satu sama lain. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
�Tia, lo temen gue.� Jelasku jujur.
Itulah kata-kata yang terbesit cepat di pikiranku, tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan kata-kata itu.
�Jadi intinya lo gak mau De?� Tanya Tia, wajahnya penuh dengan kekecewaan.
�Ti?�
Dia hanya menunduk ketika aku panggil. Aku panggil lagi, tetapi dia masih menunduk dan tak mau menjawab. Lalu aku mencoba mengangkat dahinya dan ku pegang lembut jemari tangannya.
�Dengerin penjelasan gue dulu.�
�Apa lagi? Jadi selama ini lo gak ngertiin maksud gue?� Tanya Tia.
Bibirnya bergetar ketika berbicara, matanya berlinang. Aku tak sanggup melihat seorang wanita mengangis di hadapanku. Semua ini salahku.
�Tia, dengerin gue dulu makanya. Bukan gitu maksud gue. Gue mau ngebahagiain orang tua gue dulu Ti.� Jelasku.
Tia tidak membalas perkataanku, dia hanya diam dan mulai menangis. Aku pun mencoba menenangkannya.
�Jangan nangis Ti.�
�Gak usah deket-deket gue De!� Kesal Tia
�Ti, gue juga punya rasa yang sama kaya lo. Tapi gue gak bisa fokus ke situ, gue mau ngebahagiain keluarga gue dulu.� Jelasku.
�Tapi gue punya harapan lebih buat kita berdua De.� Pinta Tia dengan penuh harapan.
Lalu aku balas dengan senyuman. Dan mencoba membuatnya tersenyum kembali.
�Senyum dong Ti.�
�Gak bisa De.�
�Hmm.. Lo belom pernah ke Paris kan?�
�Belom, tapi gue bisa kok sama keluarga gue tinggal di sana.� Jawab Tia.
�Gue janji Ti sama lo. Gue bakal bawa lo ke sana. Gue bakal tinggal sama lo di sana. Kita sama-sama ke sana buat ngerubah negeri ini.�
Kami pun terdiam lagi, kami pun saling menatap lagi. Tatapan matanya begitu indah, memancarkan kepercayaan yang mendalam. Lalu senyuman yang ada di wajahnya kembali terlihat.
Andai Saja Orang Itu tak Dilahirkan
�Krik.. Krik.. Krik..�
Suara jangkrik peliharaanku terdengar sahut-sahutan menertai dinginnya malam. Hembusan angin terasa begitu menusuk sampai ke tulang. Jam dinding di kamar tidurku terus memutar jarumnya. Lebih kurangnya tujuh hari sudah aku lewati tanpa satu pun sms yang ku terima dari Tia.
Lalu aku kembali memfokuskan pikirannya pada sebuah artikel yang sedang ku tulis untuk dikirim ke salah satu media cetak yang cukup terkenal di Yogya. Sulit sekali memang mengalami keadaan seperti ini. Aku sungguh merasa bersalah kepada Tia tentang kejadian minggu lalu.
�Toktoktok..�
Suara ketukan terdengar dari pintu rumahku di tengah sunyinya malam. Aku mengintip dari jendela kamar tidurku, ternyata itu adalah A�a yang baru saja pulang dari kesibukannya.
�Assalamu�alaykum, Mak. A�a bawa uang lagi nih buat Emak.�
�Wa�alaykumusslam. Alhamdulillah ya, Emak bangga banget punya anak kaya kamu.�
Seperti biasa, kalimat seperti itu lah yang berulang-ulang kali terucap dari mulut Emak untuk menyambut kedatangan A�a. Ironisnya, sangat berbeda ucapan Emak ketika menyambut kedatanganku.
�Uang dari mana lagi tuh Bang?� Tanyaku.
�Yang jelas bukan uang hasil nyolong De.� Ketus sekali jawaban dari A�a
�Ohh.. Berarti abis ngepet atau gak hasil j*di ya Bang?�
�BRAAKKK!!� A�a memukul meja makan sampai semua makanan yang ada di meja
�Kurang ajar lo ya! Yang penting gue dapet uang, daripada lo belajar terus. Lo tuh Cuma nambahin beban Emak lo doang! Lo tau kan Bapak udah gak ada? Uang ini juga buat sekolah De!� Bentak A�a begitu kesal.
�Gue cuma nanya itu uang dari mana?�
�Sudah cukup! Kalian berdua tau sekarang udah jam berapa? Kalian berdua mau mambangunkan warga satu kampung? Cepat pergi tidur!� Ujar Emak begitu kesal melihat tingkah laku kami.
Kemarahan Emak menggiringku untuk pergi ke kamar tidurku. Masa bodoh dengan saudara kandungku, semakin hari aku semakin membenci dengan keberadaannya di rumah ini.
Malam terus berganti pagi. Begitu juga hari yang terus berganti bulan. Selalu saja terdengar ocehan dari mulut Emak dan A�a membicarakan hal yang sama. Aku sudah bosan dengan keadaan seperti ini. Di samping itu, skripsi S-1 yang sedang aku buat tak kunjung selesai. Dan itu membuatku semakin bosan dengan kehidupan yang sedang aku jalani.
Hari demi hari ku jalani, aku merasa terbebani sekali dengan tugas skripsi ini. Aku mencoba untuk menghubungi Tia, akan tetapi hasilnya nihil. Biasanya aku dan Tia selalu mengerjakan tugas-tugas kuliah bersama, semenjak kejadian itu semuanya berubah.
�Kring.. Kring..�
Beberapa jam kemudian terdengar suara ringtone dari handphoneku yang aku letakkan di atas tempat tidurku. Aku terdiam sejenak ketika melihat layar handphoneku, Tia mengirimku sebuah sms.
�Semangat ya De, gue tau lo pasti bisa kok! Semangat! Puncak Menara Eiffel udah nungguin kita lho.. hehe�
Semangatku yang sudah habis terasa pulih kembali. Aku ingin sekali membalasnya, tapi aku bingung kalimat apa yang cocok untuk membalasnya. Dan aku kembali melanjutkan skripsiku. �Alhamdulillah Tia baik-baik saja, terima kasih ya Allah.� Ucapku lirih.
Waktu terus berlalu, skripsiku akhirnya selesai. Berita bagusnya lagi, Dosenku tidak menyuruhku untuk merevisi sedikitpun. Aku tinggal mempersiapkan diriku untuk sidang saja.
Perasaan senang ini tak lupa aku beritahu kepada Emak, aku sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah Emak ketika mendengar bahwa aku akan segera lulus dan menjadi seorang sarjana.
�Maaakkk.. Ade sebentar lagi lulus Mak!� Ujarku kegirangan.
�Iya? Wahh hebat.. Abis itu cepet-cepet nyari kerja ya De.� Jawab Emak.
�Kok jawabannya gitu doang Mak?�
�Emang mau gimana lagi?�
�Emak gak seneng ya Ade pengen lulus?� Tanyaku sedikit kesal.
�Seneng kok, tapi Emak lebih seneng kalau Ade udah sukses kaya A�a.� Jawab Emak dengan tegas, perkataannya begitu mengiris perasaanku.
�A�a terus yang Emak bela. Emak Ade gak butuh dibela sama Emak? Anak emak tuh ada dua, A�a sama Ade bukan cuma A�a doang Mak!!� Bentakku.
�Anak durhaka kamu ya ngebentak orangtua sendiri. Durhaka kamu!�
�Ya abis Emak pilih kasih, suka ngebedain A�a sama Ade. Ade pengen disayang sama Emak lagi kaya dulu, kaya waktu Ade masih SD, SMP. Gak kaya gini Mak.� Ucapku sambil menatap mata Emak, Emak hanya terdiam.
�Assalamuualaykum Mak�� Salam A�a yang baru saja pulang
�Tuh anak Emak satu-satunya baru pulang!�
Aku pun langsung meninggalkan ruang keluarga. Ternyata benar dugaanku. Emak pasti tidak akan peduli. Anak macam apa aku ini? Orangtuaku sendiri saja tidak memberiku dukungan.
Wisuda yang Menyedihkan
Wajah-wajah bahagia dari para mahasiswa dan mahasiswi di Kampus ini sangat terlihat ketika aku mulai melangkahkan kakiku dari depan pintu masuk Aula Utama Kampus. Para Photographer juga nampaknya sudah siap untuk mendokumentasi momen-momen kebahagiaan yang akan terjadi pada hari yang akan menjadi hari bersejarah bagi semua pelajar yang ada di Kampus ini.
Tahun ini memang mengejutkan, dari semua fakultas yang ada tidak ada satu pun mahasiswa maupun mahasiswi yang tidak lulus. Aku melihat sekeliling, entah apa yang aku lihat. Tiba-tiba seorang menepuk bahuku dari belakang.
�Sendirian aja De?�
�Ehhh.. Elooo!� Balasku kaget.
Dia adalah Romi, aku berteman dengannya sejak aku masih duduk di bangku SMP tetapi SMA kami berbeda. Karena kami berbeda fakultas dan kepentingan, kami jadi jarang bertemu.
�Gue duluan ya De. Udah ditunggu sama orangtua gue di sana.� Ujar Romi
�Kok lo buru-buru banget? Nanti aja lahh, bilang ke orangtua lo haha�
�Yahh biasa orangtua gue kan gak suka nunggu lama-lama De.� Jelas Romi.
�Oke deh, salam buat orangtua lo ya.�
Di saat semua orang di sini sibuk dengan orangtuanya masing-masing, aku hanya bisa terdiam sendiri. Emak lebih memilih menunggu kepulangan A�a di rumah daripada menghadiri wisudaku ini. Sedih sekali. Ingin sekali aku menangis. �Kenapa sih Mak?� Ucapku dalam hati sambil menghela nafas.
Dukungan yang Sangat Berarti
Setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta, aku pun tak lupa dengan cita-citaku yaitu melanjutkan sekolah ke Paris bersama Tia. Hubungan kami berdua mulai membaik seperti dulu lagi, bisa dibilang lebih dari baik dari sebelumnya.
�Gimana Ti kita jadi kan ke Paris? Haha.� Tanyaku bergurau.
�Kok ketawa? Jadi lo gak mau serius?�
�Gue bercanda Ti. Hahaha�
�Iya gue juga bercanda kok. Hehehe. Jadi dong kan kita�.�
�Kita apa?� Tanyaku penasaran.
�Menurut lo?� Tia balik menanyaku.
�Iya kita bakal tinggal bareng kok Ti.� Jawabku sambil tersenyum.
�Yeee gombal banget!�
�Jadi gak ke rumah gue Ti?� Tanyaku.
�Ya udah ayuk.�
Aku membawa Tia ke rumahku, aku ingin sekali memperkenalkan Tia kepada Emak. Selama di perjalanan kami mengobrol banyak, bersenda-gurau yang jelas tak seperti kami dulu yang hanya berdiam saja tanpa suara.
Ekspresi wajah Tia terlihat begitu senang ketika sampai di halaman depan rumahku. Emak pun dari kejauhan terlihat senang, entah mengapa Emak begitu menyambut kedatangaku kali ini.
�Mak, ini Tia. Temen Ade. Tia, ini Emak gue.� Ucapku.
�Cantik banget kamu nak, pacarnya Ade ya?� Tanya Emak.
�Bukan Mak, tapi calon istri.� Sambarku sambil tertawa.
�Heeehhh!� Sambar Tia.
Setelah lama berbincang dengan Emak, Tia kembali ke rumah. Aku hanya bisa mengantarnya sampai halaman depan.
�Ti, hati-hati ya. Gue belom bisa nganterin lo sampe ke rumah.� Ucapku.
�Iya De gue pulang ya. Iya gak papa, lagipula gue kan bawa mobil De.�
�Ya udah sebentar lagi gue bisa kok. Hahaha� Ujarku.
�Gue tau lo bisa, buat orangtua lo percaya dulu ya kalau kita beneran mau ke Paris.�
�Gue janji sama lo Ti.� Ucapku.
Begitu senangnya hatiku walaupun Emak memang benar-benar tidak mau mendukungku tapi aku masih punya seseorang yang selalu ada di sampingku di kala suka dan duka.
Menara Eiffel tanpa Puncak
Minggu pagi yang begitu indah, dedaunan yang berjatuhan tertiup angin pagi yang cukup kencang tapi menyejukkan. Bunga-bunga yang bermekaran di halaman rumahku begitu indah. Suara gemericik air di kolam dan suara kicau burung melengkapi suasana pagi yang sempurna.
Sembari membaca surat kabar dengan berita yang masih hangat secangkir kopi susu panas ikut mendampingiku duduk di teras rumah. Mataku terpana pada berita Internasional yang sedang menceritakan bahwa ekonomi di Prancis sedang stabil. Aku pun semakin bersemangat untuk benar-benar meneruskan studiku ke Paris.
Halaman demi halaman terus kubuka. Pandanganku terhenti, aku sempat terdiam. Berita kecelakaan yang memakan korban perempuan, dan ciri-ciri mobilnya sama persis dengan mobil yang Tia kendarai. Aku langsung menghubungi Tia, nomornya tidak dapat dihubungi dan aku menjadi tambah panik. Aku langsung menuju rumahnya, selama di perjalanan aku terus mencoba menghubunginya, tetapi tetap tidak bisa.
Aku melihat banyak orang ketika sampai di depan rumahnya, aku masuk perlahan ke dalam rumahnya. Mataku sudah berkaca-kaca. Aku sudak tidak tahu ingin melakukan apa lagi. Dengan lesu lalu aku memasuki pintu rumahnya.
�Ade!� Suara seperti Tia memanggilku dari belakang.
�Loh Tia? Lo kok?� Tanyaku heran.
�Kenapa? Kok lo mau ke sini gak bilang-bilang dulu? Sekarang banyak saudara gue datang mau pada silahturahmi.�
Aku pun diam, antara perasaan heran dan senang bercampur jadi satu, ternyata Tia baik-baik saja.
�Kok diem De? Main aja yuk ke luar.� Ajak Tia
�Tia gue gak mau kehilangan lo.� Ujarku
�Lo kenapa De?�
�Ya pokoknya lo jangan kemana-mana. Lo sama gue aja.�
�Lo kenapa sih?�
�Gue sayang sama lo.� Ucapku sambil memeluknya, Tia tak merespon apa-apa. Mungkin ia bingung.
Aku sengaja tidak mau menceritakan hal ini padanya, aku tahu pasti dia akan merasa tidak risih. Aku memilih untuk menyimpan ucapanku ini.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, aku dan Tia bertunangan. Dan kemungkinan bulan depan kita akan melaksanakan pernikahan. Alangkah senangnya. Cita-citaku yang pertama akhirnya terwujud, dan sekarang proses masih berjalan untuk sampai ke Paris, Prancis.
Belakangan ini, pekerjaan kami berdua sangat sibuk sehingga memaksa kami tidak bertemu dan jalan sekali berkomunikasi. Aku pun tak mau banyak mengeluh, ini lah memang tantangannya ketika kami berbeda karir.
�De, Tia kecelakaan sekarang dia masuk rumah sakit.�
Ucapan yang mengagetkan tiba-tiba keluar dari mulut rekan kerjaku yang juga merupakan saudara dari Tia. Sesuatu yang sedang aku pikirkan untuk pekerjaan seketika berhamburan. Aku pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Aku berharap tidak terjadi apa-apa dengannya.
Aku berlari sekencang mungkin menuju Ruang UGD. Aku langsung menghampiri Tia yang sedang berbaring lemas. Aku mendengar secara jelas Tia terus memanggil-manggil namaku dengan suara pelan. Aku tak kuat menahan tangis melihat kondisinya. Aku ajak ia berbicara tapi ia hanya mengeluarkan air mata. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak sanggup berbicara.
�Tia ngomong Ti.. Ngomong.. Kamu kenapa bisa kaya gini?� Tanyaku sambil sedikit menangis.
Tia tak sanggup berbicara, ia hanya membalas genggaman tanganku dan lagi ia mengeluarkan air matanya. Lalu aku bergegas memanggil Dokter.
�Dok, bisa dipindahkan ke ruang yang lain?�
�Ya, baru saja kami ingin pindahkan ke ruang ICU.� Kata Dokter.
Tia dengan cepat dipindahkan ke ruang ICU. Aku hanya bisa berdoa kepada Allah semoga ia diberikan kesembuhan kembali.
Seharian aku menunggu di luar ruangan, akhirnya dokter memperbolehkanku masuk.
�Tia? Kamu gak papa? Kamu bakalan sembuh kan?�
�Iya De, aku gak papa. Gak usah khawatir, sebentar lagi aku udah bisa lari lagi kok De.� Jelas Tia sambil tersenyum.
�Aku khawatir banget lah, kamu kan sekarang udah jadi tunangan aku. Kamu juga udah jadi tanggung jawab aku Ti.� Ucapku.
�Udah kamu lanjutuin pekerjaan kamu aja, aku malah ganggu pekerjaan kamu kalau kamu di sini terus.�
�Aku gak mau ninggalin kamu sendirian.�
�Aku gak sendirian, aku ada kamu walaupun kamu jauh.� Ujar Tia, bermaksud menenangkanku.
�Diem, aku bakal di sini terus.� Ucapku dengan tegas.
Lalu aku pergi keluar ruangan sebentar untuk membeli makanan, aku memborong makanan-makanan kesukaan Tia. Aku juga membelikannya setangkai bunga.
Ketika aku kembali, aku melihat beberapa tim dokter berlarian menuju ruangan dimana Tia dirawat. Seketika aku menghentikan langkahku. Tanpa sadar aku menjatuhkan sekantung makanan yang telah aku beli untuk Tia. Aku menghela nafas sejenak dan berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya. Aku ikut berlari sembari membawa setangkai bunga untuknya yang sengaja aku beli demi melihatnya tersenyum dan melupakan rasa sakit yang sedang dialami olehnya. Jantungku berdetak kencang, begitu kencang. Lalu aku memasuki ruangannya.
�Cepat panggil Dokter!� Teriak seorang suster.
�Suster, Tia kenapa?� Aku panik.
�Cepat panggil dokter!� Suster tersebut menyuruh suster yang lainnya tetapi ia menghiraukan perkataanku.
�Tia kamu kenapa? Jawab Ti.. Jawab�� Ucapku.
Tetapi Tia tak mau menjawab, nafasnya masih terdengar tetapi matanya tertutup. Aku terus menggilnya tiada henti. Aku menyuruhnya untuk bangun, tetapi ia tetap tak merespon sedikit pun.
�Tia.. Ini aku bawain bunga buat kamu. Bangun Ti.. Bangun..� Ucapku terbata-bata seperti tak kuat menahan tangis.
Lalu aku letakkan setangkai bunga itu di sampingnya, aku berharap ia tersenyum setelah ia bangun nanti.
Seluruh tubuhnya berkeringat, aku mengusap keningnya. Telapak tangannya mulai dingin, berbeda dengan suhu tubuh lainnya. Aku menggenggam tangan kanannya, aku merasakan ia juga ingin menggenggam tanganku dengan kondisi seperti ini. Sedikit demi sedikit air mataku membasahi genggaman tanganku dengan Tia. Rasanya aku tak ingin melepasnya samapai Tia pulih kembali. Tak lama kemudian salah seorang Dokter menyuruhku untuk menunggu di luar ruangan.
Aku duduk dengan perasaan tak nyaman. Lantunan doa kepada Sang Pencipta tak henti-hentinya keluar dari dalam mulutku. Resah rasanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, aku jadi teringat saat pertama kalinya aku makan siang bersamanya. Kala itu hanya ada aku dan dia. Air mata tak berhenti mengalir. Aku kembali menguatkan doaku. Aku terus meminta kepadaNya untuk kesembuhan Tia.
Menunggu dan menunggu. Lalu salah seorang Dokter keluar, aku bergegas menghampirinya.
�Dok, Tia baik-baik aja kan?� Tanyaku.
�Maaf, kami sudah berusaha semampu kami.� Jawabnya dengan nada suara pelan.
Mendengar perkataan seperti itu, aku hanya bisa berkata �Kenapa harus seperti ini? Bagaimana dengan puncak Menara Eiffel yang sudah menunggu kita� Aku hanya bisa menunduk dengan sabar. Air mata muali mengalir membasahi sekantung makanan-makan kesukaan Tia. Andai saja tadi aku tetap bersamanya, setidaknya aku punya waktu lebih banyak. Aku tak mengeti harus berbuat apa lagi. Semua yang telah dijanjikan antara aku dan Tia pada hari ini musnah dengan seketika.
Janjiku untuk Negeri
3 Agustus 2008, genap satu bulan setelah aku kehilangan seseorang yang selalu mendukungku selama ini. Andai saja Tia masih di sini, pasti hari ini akan menjadi hari yang tak akan pernah aku lupakan. Yaitu resepsi pernikahan. Memang sedih sekali.
Sehari setelah itu, kabar baik yang sudah lama aku tunggu akhirnya datang. Aku dinyatakan lulus dalam seleksi mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ke Prancis.
Dan tepat pada tanggal 13 September 2013, aku melangkahkan kakiku menaiki pesawat Garuda Indonesia yang akan membawaku ke Prancis. Sungguh tidak terbayang. �Tia, andaikan kau ada disini. Tinggal beberapa langkah lagi kita akan menggapai cita-cita kita.� Ucapku dalam hati ketika memasuki badan pesawat.
Memang aku sudah melupakan sedikit demi sedikit kejadian yang menyedihkan itu. Tapi aku tak akan pernah melupakan seberapa besar pengaruh dukungan yang ia berikan kepadaku.
Lalu aku duduk, dan memulai memfokuskan tujuanku yang sebenarnya.
�Maafkan aku Tanah Airku, aku ingin belajar di Negeri orang agar bangsa ini menjdai lebih baik.
Maafkan aku Tanah Airku, bukan maksudku merendahkanmu atau tak percaya kepadamu.
Akan tetapi aku hanya ingin bangsa ini tidak diinjak-injak lagi oleh bangsa lain.
Wahai Tanah Airku, aku berjanji setelah pulang nanti aku akan merubah Negeri ini menjadi jauh lebih baik.�
Blog: alfhatinpratama.blogspot.com
Nama: Alfhatin Pratama
twitter: @tinfhatin
fb: Alfhatin Pratama
blog: alfhatinpratama.blogspot.com

Saturday, 30 November 2013

Cara Pacaran Yang Baik Agar Saat Putus Tidak Sakit Hati

Cara Pacaran Yang Baik Agar Saat Putus Tidak Sakit Hati

  1. Jadikan dia satu-satunya pacarmu. Mungkin banyak yang bertanya kenapa kok malah dijadikan satu-satunya kan itu justru bisa bikin sakit hati? tapi tunggu dulu ikuti tahap selanjutnya
  2. Berikan dia yang terbaik tapi kamu tetap menjadi dirimu sendiri. Lakukan yang terbaik untuk dia seperti yang dia inginkan kalau itu masih dalam batas kewajaran. Apabila itu sudah tidak sesuai dengan jati dirimu maka jangan dilakukan.
  3. Jadikan pacarmu sebagai nomor 4 dalam hidupmu. Setelah Allah, Keluarga dan Teman. Apabila kamu sudah menjadikan pacar mu sebagai nomor 4 dalam hidup mu maka saat dia pergi kamu tidak akan sakit hati karna masih ada Alla, Keluarga dan Teman disampingmu dan biasanya ini adalah tahap yang paling sulit untuk dilalui.

 Kenapa harus seperti itu? kalau kalian pisah kalian tidak akan sepenuhnya menyesal karna sebelumnya kalian sudah melakukan yang terbaik untuk dia mulai dari memperlakukannya dengan baik dan menjadikannya satu-satunya. Kalau sampai dia pergi itu urusannya, berarti dia orang yang bodoh karna telah meninggalkan orang yang tulus mencintainya. Dan kalau pun mereka pergi masih ada ALLAH, keluarga dan teman yang selalu siap mendampingimu.