Tuesday, 3 December 2013

Cerpen Pendidikan Terbaik



Yogyakarta 13 September 2008
�Eh Tia kok sendirian aja?� Sapaku.
�Iya nih, biasa lagi buat penelitian. Gak penting banget gila!� Jelasnya
�Lo gak boleh gitu lah, itu kan syarat kelulusan juga. Gue temenin ya?�
�Yaahh.. Jangan cuma nemenin, bantuin lahh! Hahaha.�
�Ah dasar! Eh sebentar ya, gue mau pesen makanan dulu.�
�Oke deh.�
Old but Gold
Perutku terasa lapar setelah seharian berada di Kampus yang membosankan ini. Setiap hari ada saja tugas-tugas yang menyebalkan yang diberikan oleh para dosen disini.
�Bu, beli nasi kucing dong. Nasinya dua, gorengannya bakwan aja, ususnya satu, sama ati ampelanya satu ya Bu.�
�Apa lagi Mas?�
�Cukup itu saja Bu.�
Dompetku pun tak mendukung aku memborong angkringan murah yang ada di Kantin Kampusku. Lalu aku kembali menghampiri Tia yang semakin terlihat kacau di depan Laptop.
�Lama banget sih de. Kemana aja sih lo?� Tanya Tia sedikit kesal.
�Beli Nasi Kucing hehehe.� Jawabku malu.
�Bungkus aja itu, ikut gue yuk!� Ajak Tia secara tiba-tiba.
�Tapi kan��
�Udahhh cepet gak usah pake lama deh.� Paksa Tia sembari menarik tanganku yang baru saja ingin memulai suapan pertama.
Tia menarikku sampi ke lapangan parkir di belakang Kampusku. Kemudian, Tia menaiki sebuah mobil sport mewah yang berada tepat di samping motor bututku. Kalau saja sebelumnya aku tahu itu adalah mobilnya, aku pasti tidak akan memarkir motorku tepat di sebelah mobilnya. Malu aku, mobilnya begitu mewah dan berbanding terbalik sekali dengan motorku yang belum sempat aku cuci selama 1 bulan. Tiba-tiba Tia mengajakku untuk menaiki mobilnya.
�De, cepet naik!� Ajak Tia
�Tapi ini kan motor gue Ti.� Jelasku.
�Ya udah tinggalin aja dulu, panas tau naik motor.�
Matahari memang sangat terik. Dengan sedikit rasa berat hati, aku pun menerima ajakkan Tia. Baru kali pertama aku diajak pergi ke suatu tempat oleh teman perempuan secantik Tia. Entah kemana aku akan dibawa pergi olehnya, aku hanya duduk manis di sebelahnya dan menikmati indahnya perjalanan.
Kami pun tiba di sebuah Restaurant ternama di sekitar Malioboro. Ternyata Tia ingin mengajakku makan siang. Kenapa tidak makan siang di Kantin Kampus saja? Tanya batinku heran. Baru saja kami turun dari mobil, seorang waiter menghampiri kami berdua dan mengantarkan kami ke tempat duduk yang sudah dipesan sebelumnya. Aku pun bertanya-Tanya.
�Loh kok kita duduk di sini sih Ti? Bukannya ini udah dipesan sama orang lain?� Tanyaku dengan penasaran.
�Gue juga gak tau de, waiter nya kan yang nyuruh kita duduk di sini?�
�Beneran?�
Apakah benar Tia tidak memesan tempat ini? Lalu siapa? Tapi, apa tujuannya kalau memang dia yang benar memesan tempat ini. Aku menatap matanya, aku sedikit curiga. Aku tahu dia tidak bisa berbohong, tak pernah perbohong malah. Sudahlah, hal seperti ini tidak begitu penting. Lagipula dia hanya mengajakku makan siang.
Aku kembali melihat daftar menu makanan. Aku baru tersadar ketika melihat daftar harganya, uangku tak cukup. Aku bingung setengah mati.
�Tia, gue��
�Kenapa lo?�
�Ituu.. anuuu..� Kataku gugup.
�Apaan sih? Yang jelas ngapa?�
�Uang gue gak cukup Ti buat makan.� Jelasku.
�Elahhh kirain apa. Gak usah dipikirin, pake uang gue dulu aja.�
�Gak enak gue sama lo, gue pulang aja apa?�
�Lah lo gak ngehargain gue dong?�
�Tapi��
�Tapi, tapi, tapi terus dari tadi! Capek gue dengernya.�
�Hahahaha.� Balasku dengan tawa.
Lalu kami kembali melihat daftar menu makanan. �Aku udik sekali� Pikirku. Tidak ada satu pun menu yang aku kenal di dalam daftar ini. Nasi dan air putih, itu saja yang aku kenal. Aku pun diam, berpikir sejenak. Tiba-tiba Tia menegurku.
�Kok diem aja? Lo mau pesen apa?� Tanya Tia.
�Sama kaya lo aja deh Ti.� Jawabku dengan tegas.
�Mas, saya pesan paket ini ya untuk 2 porsi.� Ucap Tia sembari menunjukkan menu makanan yang kami pesan.
�Ada lagi Mbak?� Tanya seorang waiter.
�Sudah cukup itu saja.�
I�m Sorry for Being Like This
Setelah menunggu cukup lama, makanan yang kami pesan akhirnya datang. Akan tetapi, hatiku dipenuhi oleh rasa bimbang antar menikmati makanan yang lezat dan perasaan malu yang tinggi karena uang tidak mencukupi untuk memesan satu menu pun di Restaurant ini.
Tidak ada sepatah dua kata pun keluar dari mulut kami berdua. Aku bingung ingin memulai pembicaraan seperti apa. �Kalau nanti salah ngomong, kan gak lucu.� Ucapku lirih. Sepertinya Tia mendengar perkataanku, ia langsung bertanya.
�Hah kenapa? Lo ngomong apa barusan?� Tanya Tia.
�Enggg.. enggak kok.� Balasku gugup.
Dan kami pun kembali diam. Suasa makan siang kali ini begitu flat. Di dalam diriku penuh perasaan gugup, entah mengapa demikian. Tak pernah aku rasakan hal ini sebelumnya. �Aneh sekali, apakah makanannya terlalu enak atau memang sedang lapar?� Pikirku.
�PYAAARRR!�
Seorang waiter paruh baya dengan tidak disengaja menjatuhkan secangkir kopi panas tepat di atas meja kami. Hampir pecahan cangkirnya mengenai wajah Tia.
�Eh Mas, hati-hati dong! Bahaya ini pecahannya bisa masuk mata.� Geramku kesal.
�Iyy.. Iyy.. Iya Mas maaf, semuanya akan kami ganti.� Balas seorang waiter paruh baya itu dengan wajah pucat.
�Udah gak usah Mas, kita juga udah selesai makan kok. Udah De, gue juga baik-baik aja kok.� Tia mencoba Manahan amarahku.
�Bener lo gak kenapa-kenapa?� Tanyaku cemas.
�Iya. Lo kenapa sih nanyanya segitunya banget? Santai aja kali. Hahaha� Balas Tia sedikit bergurau dengan maksud menenangkanku.
�Nanti gue yang disalahin sama keluarga lo, Ti. Ya udah lanjut makan yuk.� Ujarku sedikit mengalihkan pembicaraan.
Kami pun lagi-lagi kembali diam. Aku melihat Tia, dia tidak begitu serius makan akan tetapi herannya kenapa tidak ada pembicaraan di antara kami. Aku menatap Tia, Tia pun kembali menatapku. Lalu aku kembali makan, Tia pun demikian. Terus seperti itu sampai suapan terakhir habis. Aku kembali menatap Tia.
�Kenapa?� Tanya Tia.
�Gak kok.� Balasku dengan senyum, Tia juga membalas senyumanku.
�Kalau melihatnya sedekat ini, Tia manis juga ya.� Tiba-tiba terbesit kalimat seperti itu di dalam benakku. Aku sedikit tersenyum. Lalu Tia membalas lagi senyumanku, padahal aku tidak punya maksud untuk senyum kepadanya. �Tak apa lah kalau yang senyum semanis dia.� Ucapku dalam hati. Dan aku beranikan diriku untuk memulai pembicaraan kali ini.
�Ayuk Ti kita pulang. Tugas lo belum selesai kan?�
�Sebentar lagi aja. kalau pulang sekarang gue di rumah sendiri kan orangtua gue lagi pada kerja, mereka juga pulangnya malem banget, gue bete sendirian lama-lama di rumah, De.� Terus terang Tia.
Detik demi detik kami lewati dengan saling berbicara tanpa henti. Tidak terasa ketika aku melihat jam tanganku waktu sudah menunjukkan pukul 5 sore.
�Udah jam 5 sore Ti.�
�Ya udah kita pulang yuk. Eh sebentar De.�
�Ada apa?�
�Sebentar.�
Tia menahanku untuk pulang, ia terlihat sibuk sekali membuka-buka tas bawaannya. Lalu Tia mengeluarkan sesuatu yang terbungkus rapih dengan kertas kado bergambar tokoh kartun Doraemon kesukaanku dari dalam tasnya.
�Itu buat siapa? Emak gue? Hahaha.� Tanyaku sambil bergurau.
�Buat lo lah.� Jawabnya singkat, padat, tetapi tidak terlalu jelas maknanya yang dapat aku saring.
�Buat gue? Gue gak ulang tahun kok Ti� Jelasku polos.
Sebenarnya ada apa dia tiba-tiba Tia mengasihku hadiah? Apakah kado ulang tahun yang terlambat? Aku memang sejak duduk di bangku sekolah menengah atas sudah dekat dengannya, tapi dari dulu memang Tia tidak pernah memberiku hadiah. Mengapa sekarang demikian?
�Gue suka sama lo De semenjak lulus-lulusan SMA.� Jelas Tia.
�Hah?� Aku hanya bisa terdiam.
Kami saling menatap satu sama lain. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.
�Tia, lo temen gue.� Jelasku jujur.
Itulah kata-kata yang terbesit cepat di pikiranku, tanpa pikir panjang aku langsung mengeluarkan kata-kata itu.
�Jadi intinya lo gak mau De?� Tanya Tia, wajahnya penuh dengan kekecewaan.
�Ti?�
Dia hanya menunduk ketika aku panggil. Aku panggil lagi, tetapi dia masih menunduk dan tak mau menjawab. Lalu aku mencoba mengangkat dahinya dan ku pegang lembut jemari tangannya.
�Dengerin penjelasan gue dulu.�
�Apa lagi? Jadi selama ini lo gak ngertiin maksud gue?� Tanya Tia.
Bibirnya bergetar ketika berbicara, matanya berlinang. Aku tak sanggup melihat seorang wanita mengangis di hadapanku. Semua ini salahku.
�Tia, dengerin gue dulu makanya. Bukan gitu maksud gue. Gue mau ngebahagiain orang tua gue dulu Ti.� Jelasku.
Tia tidak membalas perkataanku, dia hanya diam dan mulai menangis. Aku pun mencoba menenangkannya.
�Jangan nangis Ti.�
�Gak usah deket-deket gue De!� Kesal Tia
�Ti, gue juga punya rasa yang sama kaya lo. Tapi gue gak bisa fokus ke situ, gue mau ngebahagiain keluarga gue dulu.� Jelasku.
�Tapi gue punya harapan lebih buat kita berdua De.� Pinta Tia dengan penuh harapan.
Lalu aku balas dengan senyuman. Dan mencoba membuatnya tersenyum kembali.
�Senyum dong Ti.�
�Gak bisa De.�
�Hmm.. Lo belom pernah ke Paris kan?�
�Belom, tapi gue bisa kok sama keluarga gue tinggal di sana.� Jawab Tia.
�Gue janji Ti sama lo. Gue bakal bawa lo ke sana. Gue bakal tinggal sama lo di sana. Kita sama-sama ke sana buat ngerubah negeri ini.�
Kami pun terdiam lagi, kami pun saling menatap lagi. Tatapan matanya begitu indah, memancarkan kepercayaan yang mendalam. Lalu senyuman yang ada di wajahnya kembali terlihat.
Andai Saja Orang Itu tak Dilahirkan
�Krik.. Krik.. Krik..�
Suara jangkrik peliharaanku terdengar sahut-sahutan menertai dinginnya malam. Hembusan angin terasa begitu menusuk sampai ke tulang. Jam dinding di kamar tidurku terus memutar jarumnya. Lebih kurangnya tujuh hari sudah aku lewati tanpa satu pun sms yang ku terima dari Tia.
Lalu aku kembali memfokuskan pikirannya pada sebuah artikel yang sedang ku tulis untuk dikirim ke salah satu media cetak yang cukup terkenal di Yogya. Sulit sekali memang mengalami keadaan seperti ini. Aku sungguh merasa bersalah kepada Tia tentang kejadian minggu lalu.
�Toktoktok..�
Suara ketukan terdengar dari pintu rumahku di tengah sunyinya malam. Aku mengintip dari jendela kamar tidurku, ternyata itu adalah A�a yang baru saja pulang dari kesibukannya.
�Assalamu�alaykum, Mak. A�a bawa uang lagi nih buat Emak.�
�Wa�alaykumusslam. Alhamdulillah ya, Emak bangga banget punya anak kaya kamu.�
Seperti biasa, kalimat seperti itu lah yang berulang-ulang kali terucap dari mulut Emak untuk menyambut kedatangan A�a. Ironisnya, sangat berbeda ucapan Emak ketika menyambut kedatanganku.
�Uang dari mana lagi tuh Bang?� Tanyaku.
�Yang jelas bukan uang hasil nyolong De.� Ketus sekali jawaban dari A�a
�Ohh.. Berarti abis ngepet atau gak hasil j*di ya Bang?�
�BRAAKKK!!� A�a memukul meja makan sampai semua makanan yang ada di meja
�Kurang ajar lo ya! Yang penting gue dapet uang, daripada lo belajar terus. Lo tuh Cuma nambahin beban Emak lo doang! Lo tau kan Bapak udah gak ada? Uang ini juga buat sekolah De!� Bentak A�a begitu kesal.
�Gue cuma nanya itu uang dari mana?�
�Sudah cukup! Kalian berdua tau sekarang udah jam berapa? Kalian berdua mau mambangunkan warga satu kampung? Cepat pergi tidur!� Ujar Emak begitu kesal melihat tingkah laku kami.
Kemarahan Emak menggiringku untuk pergi ke kamar tidurku. Masa bodoh dengan saudara kandungku, semakin hari aku semakin membenci dengan keberadaannya di rumah ini.
Malam terus berganti pagi. Begitu juga hari yang terus berganti bulan. Selalu saja terdengar ocehan dari mulut Emak dan A�a membicarakan hal yang sama. Aku sudah bosan dengan keadaan seperti ini. Di samping itu, skripsi S-1 yang sedang aku buat tak kunjung selesai. Dan itu membuatku semakin bosan dengan kehidupan yang sedang aku jalani.
Hari demi hari ku jalani, aku merasa terbebani sekali dengan tugas skripsi ini. Aku mencoba untuk menghubungi Tia, akan tetapi hasilnya nihil. Biasanya aku dan Tia selalu mengerjakan tugas-tugas kuliah bersama, semenjak kejadian itu semuanya berubah.
�Kring.. Kring..�
Beberapa jam kemudian terdengar suara ringtone dari handphoneku yang aku letakkan di atas tempat tidurku. Aku terdiam sejenak ketika melihat layar handphoneku, Tia mengirimku sebuah sms.
�Semangat ya De, gue tau lo pasti bisa kok! Semangat! Puncak Menara Eiffel udah nungguin kita lho.. hehe�
Semangatku yang sudah habis terasa pulih kembali. Aku ingin sekali membalasnya, tapi aku bingung kalimat apa yang cocok untuk membalasnya. Dan aku kembali melanjutkan skripsiku. �Alhamdulillah Tia baik-baik saja, terima kasih ya Allah.� Ucapku lirih.
Waktu terus berlalu, skripsiku akhirnya selesai. Berita bagusnya lagi, Dosenku tidak menyuruhku untuk merevisi sedikitpun. Aku tinggal mempersiapkan diriku untuk sidang saja.
Perasaan senang ini tak lupa aku beritahu kepada Emak, aku sudah tidak sabar melihat ekspresi wajah Emak ketika mendengar bahwa aku akan segera lulus dan menjadi seorang sarjana.
�Maaakkk.. Ade sebentar lagi lulus Mak!� Ujarku kegirangan.
�Iya? Wahh hebat.. Abis itu cepet-cepet nyari kerja ya De.� Jawab Emak.
�Kok jawabannya gitu doang Mak?�
�Emang mau gimana lagi?�
�Emak gak seneng ya Ade pengen lulus?� Tanyaku sedikit kesal.
�Seneng kok, tapi Emak lebih seneng kalau Ade udah sukses kaya A�a.� Jawab Emak dengan tegas, perkataannya begitu mengiris perasaanku.
�A�a terus yang Emak bela. Emak Ade gak butuh dibela sama Emak? Anak emak tuh ada dua, A�a sama Ade bukan cuma A�a doang Mak!!� Bentakku.
�Anak durhaka kamu ya ngebentak orangtua sendiri. Durhaka kamu!�
�Ya abis Emak pilih kasih, suka ngebedain A�a sama Ade. Ade pengen disayang sama Emak lagi kaya dulu, kaya waktu Ade masih SD, SMP. Gak kaya gini Mak.� Ucapku sambil menatap mata Emak, Emak hanya terdiam.
�Assalamuualaykum Mak�� Salam A�a yang baru saja pulang
�Tuh anak Emak satu-satunya baru pulang!�
Aku pun langsung meninggalkan ruang keluarga. Ternyata benar dugaanku. Emak pasti tidak akan peduli. Anak macam apa aku ini? Orangtuaku sendiri saja tidak memberiku dukungan.
Wisuda yang Menyedihkan
Wajah-wajah bahagia dari para mahasiswa dan mahasiswi di Kampus ini sangat terlihat ketika aku mulai melangkahkan kakiku dari depan pintu masuk Aula Utama Kampus. Para Photographer juga nampaknya sudah siap untuk mendokumentasi momen-momen kebahagiaan yang akan terjadi pada hari yang akan menjadi hari bersejarah bagi semua pelajar yang ada di Kampus ini.
Tahun ini memang mengejutkan, dari semua fakultas yang ada tidak ada satu pun mahasiswa maupun mahasiswi yang tidak lulus. Aku melihat sekeliling, entah apa yang aku lihat. Tiba-tiba seorang menepuk bahuku dari belakang.
�Sendirian aja De?�
�Ehhh.. Elooo!� Balasku kaget.
Dia adalah Romi, aku berteman dengannya sejak aku masih duduk di bangku SMP tetapi SMA kami berbeda. Karena kami berbeda fakultas dan kepentingan, kami jadi jarang bertemu.
�Gue duluan ya De. Udah ditunggu sama orangtua gue di sana.� Ujar Romi
�Kok lo buru-buru banget? Nanti aja lahh, bilang ke orangtua lo haha�
�Yahh biasa orangtua gue kan gak suka nunggu lama-lama De.� Jelas Romi.
�Oke deh, salam buat orangtua lo ya.�
Di saat semua orang di sini sibuk dengan orangtuanya masing-masing, aku hanya bisa terdiam sendiri. Emak lebih memilih menunggu kepulangan A�a di rumah daripada menghadiri wisudaku ini. Sedih sekali. Ingin sekali aku menangis. �Kenapa sih Mak?� Ucapku dalam hati sambil menghela nafas.
Dukungan yang Sangat Berarti
Setelah lulus dan mendapatkan pekerjaan di salah satu perusahaan swasta, aku pun tak lupa dengan cita-citaku yaitu melanjutkan sekolah ke Paris bersama Tia. Hubungan kami berdua mulai membaik seperti dulu lagi, bisa dibilang lebih dari baik dari sebelumnya.
�Gimana Ti kita jadi kan ke Paris? Haha.� Tanyaku bergurau.
�Kok ketawa? Jadi lo gak mau serius?�
�Gue bercanda Ti. Hahaha�
�Iya gue juga bercanda kok. Hehehe. Jadi dong kan kita�.�
�Kita apa?� Tanyaku penasaran.
�Menurut lo?� Tia balik menanyaku.
�Iya kita bakal tinggal bareng kok Ti.� Jawabku sambil tersenyum.
�Yeee gombal banget!�
�Jadi gak ke rumah gue Ti?� Tanyaku.
�Ya udah ayuk.�
Aku membawa Tia ke rumahku, aku ingin sekali memperkenalkan Tia kepada Emak. Selama di perjalanan kami mengobrol banyak, bersenda-gurau yang jelas tak seperti kami dulu yang hanya berdiam saja tanpa suara.
Ekspresi wajah Tia terlihat begitu senang ketika sampai di halaman depan rumahku. Emak pun dari kejauhan terlihat senang, entah mengapa Emak begitu menyambut kedatangaku kali ini.
�Mak, ini Tia. Temen Ade. Tia, ini Emak gue.� Ucapku.
�Cantik banget kamu nak, pacarnya Ade ya?� Tanya Emak.
�Bukan Mak, tapi calon istri.� Sambarku sambil tertawa.
�Heeehhh!� Sambar Tia.
Setelah lama berbincang dengan Emak, Tia kembali ke rumah. Aku hanya bisa mengantarnya sampai halaman depan.
�Ti, hati-hati ya. Gue belom bisa nganterin lo sampe ke rumah.� Ucapku.
�Iya De gue pulang ya. Iya gak papa, lagipula gue kan bawa mobil De.�
�Ya udah sebentar lagi gue bisa kok. Hahaha� Ujarku.
�Gue tau lo bisa, buat orangtua lo percaya dulu ya kalau kita beneran mau ke Paris.�
�Gue janji sama lo Ti.� Ucapku.
Begitu senangnya hatiku walaupun Emak memang benar-benar tidak mau mendukungku tapi aku masih punya seseorang yang selalu ada di sampingku di kala suka dan duka.
Menara Eiffel tanpa Puncak
Minggu pagi yang begitu indah, dedaunan yang berjatuhan tertiup angin pagi yang cukup kencang tapi menyejukkan. Bunga-bunga yang bermekaran di halaman rumahku begitu indah. Suara gemericik air di kolam dan suara kicau burung melengkapi suasana pagi yang sempurna.
Sembari membaca surat kabar dengan berita yang masih hangat secangkir kopi susu panas ikut mendampingiku duduk di teras rumah. Mataku terpana pada berita Internasional yang sedang menceritakan bahwa ekonomi di Prancis sedang stabil. Aku pun semakin bersemangat untuk benar-benar meneruskan studiku ke Paris.
Halaman demi halaman terus kubuka. Pandanganku terhenti, aku sempat terdiam. Berita kecelakaan yang memakan korban perempuan, dan ciri-ciri mobilnya sama persis dengan mobil yang Tia kendarai. Aku langsung menghubungi Tia, nomornya tidak dapat dihubungi dan aku menjadi tambah panik. Aku langsung menuju rumahnya, selama di perjalanan aku terus mencoba menghubunginya, tetapi tetap tidak bisa.
Aku melihat banyak orang ketika sampai di depan rumahnya, aku masuk perlahan ke dalam rumahnya. Mataku sudah berkaca-kaca. Aku sudak tidak tahu ingin melakukan apa lagi. Dengan lesu lalu aku memasuki pintu rumahnya.
�Ade!� Suara seperti Tia memanggilku dari belakang.
�Loh Tia? Lo kok?� Tanyaku heran.
�Kenapa? Kok lo mau ke sini gak bilang-bilang dulu? Sekarang banyak saudara gue datang mau pada silahturahmi.�
Aku pun diam, antara perasaan heran dan senang bercampur jadi satu, ternyata Tia baik-baik saja.
�Kok diem De? Main aja yuk ke luar.� Ajak Tia
�Tia gue gak mau kehilangan lo.� Ujarku
�Lo kenapa De?�
�Ya pokoknya lo jangan kemana-mana. Lo sama gue aja.�
�Lo kenapa sih?�
�Gue sayang sama lo.� Ucapku sambil memeluknya, Tia tak merespon apa-apa. Mungkin ia bingung.
Aku sengaja tidak mau menceritakan hal ini padanya, aku tahu pasti dia akan merasa tidak risih. Aku memilih untuk menyimpan ucapanku ini.
Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, aku dan Tia bertunangan. Dan kemungkinan bulan depan kita akan melaksanakan pernikahan. Alangkah senangnya. Cita-citaku yang pertama akhirnya terwujud, dan sekarang proses masih berjalan untuk sampai ke Paris, Prancis.
Belakangan ini, pekerjaan kami berdua sangat sibuk sehingga memaksa kami tidak bertemu dan jalan sekali berkomunikasi. Aku pun tak mau banyak mengeluh, ini lah memang tantangannya ketika kami berbeda karir.
�De, Tia kecelakaan sekarang dia masuk rumah sakit.�
Ucapan yang mengagetkan tiba-tiba keluar dari mulut rekan kerjaku yang juga merupakan saudara dari Tia. Sesuatu yang sedang aku pikirkan untuk pekerjaan seketika berhamburan. Aku pun langsung bergegas pergi ke rumah sakit. Aku berharap tidak terjadi apa-apa dengannya.
Aku berlari sekencang mungkin menuju Ruang UGD. Aku langsung menghampiri Tia yang sedang berbaring lemas. Aku mendengar secara jelas Tia terus memanggil-manggil namaku dengan suara pelan. Aku tak kuat menahan tangis melihat kondisinya. Aku ajak ia berbicara tapi ia hanya mengeluarkan air mata. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu tapi tak sanggup berbicara.
�Tia ngomong Ti.. Ngomong.. Kamu kenapa bisa kaya gini?� Tanyaku sambil sedikit menangis.
Tia tak sanggup berbicara, ia hanya membalas genggaman tanganku dan lagi ia mengeluarkan air matanya. Lalu aku bergegas memanggil Dokter.
�Dok, bisa dipindahkan ke ruang yang lain?�
�Ya, baru saja kami ingin pindahkan ke ruang ICU.� Kata Dokter.
Tia dengan cepat dipindahkan ke ruang ICU. Aku hanya bisa berdoa kepada Allah semoga ia diberikan kesembuhan kembali.
Seharian aku menunggu di luar ruangan, akhirnya dokter memperbolehkanku masuk.
�Tia? Kamu gak papa? Kamu bakalan sembuh kan?�
�Iya De, aku gak papa. Gak usah khawatir, sebentar lagi aku udah bisa lari lagi kok De.� Jelas Tia sambil tersenyum.
�Aku khawatir banget lah, kamu kan sekarang udah jadi tunangan aku. Kamu juga udah jadi tanggung jawab aku Ti.� Ucapku.
�Udah kamu lanjutuin pekerjaan kamu aja, aku malah ganggu pekerjaan kamu kalau kamu di sini terus.�
�Aku gak mau ninggalin kamu sendirian.�
�Aku gak sendirian, aku ada kamu walaupun kamu jauh.� Ujar Tia, bermaksud menenangkanku.
�Diem, aku bakal di sini terus.� Ucapku dengan tegas.
Lalu aku pergi keluar ruangan sebentar untuk membeli makanan, aku memborong makanan-makanan kesukaan Tia. Aku juga membelikannya setangkai bunga.
Ketika aku kembali, aku melihat beberapa tim dokter berlarian menuju ruangan dimana Tia dirawat. Seketika aku menghentikan langkahku. Tanpa sadar aku menjatuhkan sekantung makanan yang telah aku beli untuk Tia. Aku menghela nafas sejenak dan berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi padanya. Aku ikut berlari sembari membawa setangkai bunga untuknya yang sengaja aku beli demi melihatnya tersenyum dan melupakan rasa sakit yang sedang dialami olehnya. Jantungku berdetak kencang, begitu kencang. Lalu aku memasuki ruangannya.
�Cepat panggil Dokter!� Teriak seorang suster.
�Suster, Tia kenapa?� Aku panik.
�Cepat panggil dokter!� Suster tersebut menyuruh suster yang lainnya tetapi ia menghiraukan perkataanku.
�Tia kamu kenapa? Jawab Ti.. Jawab�� Ucapku.
Tetapi Tia tak mau menjawab, nafasnya masih terdengar tetapi matanya tertutup. Aku terus menggilnya tiada henti. Aku menyuruhnya untuk bangun, tetapi ia tetap tak merespon sedikit pun.
�Tia.. Ini aku bawain bunga buat kamu. Bangun Ti.. Bangun..� Ucapku terbata-bata seperti tak kuat menahan tangis.
Lalu aku letakkan setangkai bunga itu di sampingnya, aku berharap ia tersenyum setelah ia bangun nanti.
Seluruh tubuhnya berkeringat, aku mengusap keningnya. Telapak tangannya mulai dingin, berbeda dengan suhu tubuh lainnya. Aku menggenggam tangan kanannya, aku merasakan ia juga ingin menggenggam tanganku dengan kondisi seperti ini. Sedikit demi sedikit air mataku membasahi genggaman tanganku dengan Tia. Rasanya aku tak ingin melepasnya samapai Tia pulih kembali. Tak lama kemudian salah seorang Dokter menyuruhku untuk menunggu di luar ruangan.
Aku duduk dengan perasaan tak nyaman. Lantunan doa kepada Sang Pencipta tak henti-hentinya keluar dari dalam mulutku. Resah rasanya.
Jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, aku jadi teringat saat pertama kalinya aku makan siang bersamanya. Kala itu hanya ada aku dan dia. Air mata tak berhenti mengalir. Aku kembali menguatkan doaku. Aku terus meminta kepadaNya untuk kesembuhan Tia.
Menunggu dan menunggu. Lalu salah seorang Dokter keluar, aku bergegas menghampirinya.
�Dok, Tia baik-baik aja kan?� Tanyaku.
�Maaf, kami sudah berusaha semampu kami.� Jawabnya dengan nada suara pelan.
Mendengar perkataan seperti itu, aku hanya bisa berkata �Kenapa harus seperti ini? Bagaimana dengan puncak Menara Eiffel yang sudah menunggu kita� Aku hanya bisa menunduk dengan sabar. Air mata muali mengalir membasahi sekantung makanan-makan kesukaan Tia. Andai saja tadi aku tetap bersamanya, setidaknya aku punya waktu lebih banyak. Aku tak mengeti harus berbuat apa lagi. Semua yang telah dijanjikan antara aku dan Tia pada hari ini musnah dengan seketika.
Janjiku untuk Negeri
3 Agustus 2008, genap satu bulan setelah aku kehilangan seseorang yang selalu mendukungku selama ini. Andai saja Tia masih di sini, pasti hari ini akan menjadi hari yang tak akan pernah aku lupakan. Yaitu resepsi pernikahan. Memang sedih sekali.
Sehari setelah itu, kabar baik yang sudah lama aku tunggu akhirnya datang. Aku dinyatakan lulus dalam seleksi mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi S2 ke Prancis.
Dan tepat pada tanggal 13 September 2013, aku melangkahkan kakiku menaiki pesawat Garuda Indonesia yang akan membawaku ke Prancis. Sungguh tidak terbayang. �Tia, andaikan kau ada disini. Tinggal beberapa langkah lagi kita akan menggapai cita-cita kita.� Ucapku dalam hati ketika memasuki badan pesawat.
Memang aku sudah melupakan sedikit demi sedikit kejadian yang menyedihkan itu. Tapi aku tak akan pernah melupakan seberapa besar pengaruh dukungan yang ia berikan kepadaku.
Lalu aku duduk, dan memulai memfokuskan tujuanku yang sebenarnya.
�Maafkan aku Tanah Airku, aku ingin belajar di Negeri orang agar bangsa ini menjdai lebih baik.
Maafkan aku Tanah Airku, bukan maksudku merendahkanmu atau tak percaya kepadamu.
Akan tetapi aku hanya ingin bangsa ini tidak diinjak-injak lagi oleh bangsa lain.
Wahai Tanah Airku, aku berjanji setelah pulang nanti aku akan merubah Negeri ini menjadi jauh lebih baik.�
Blog: alfhatinpratama.blogspot.com
Nama: Alfhatin Pratama
twitter: @tinfhatin
fb: Alfhatin Pratama
blog: alfhatinpratama.blogspot.com

Saturday, 30 November 2013

Cara Pacaran Yang Baik Agar Saat Putus Tidak Sakit Hati

Cara Pacaran Yang Baik Agar Saat Putus Tidak Sakit Hati

  1. Jadikan dia satu-satunya pacarmu. Mungkin banyak yang bertanya kenapa kok malah dijadikan satu-satunya kan itu justru bisa bikin sakit hati? tapi tunggu dulu ikuti tahap selanjutnya
  2. Berikan dia yang terbaik tapi kamu tetap menjadi dirimu sendiri. Lakukan yang terbaik untuk dia seperti yang dia inginkan kalau itu masih dalam batas kewajaran. Apabila itu sudah tidak sesuai dengan jati dirimu maka jangan dilakukan.
  3. Jadikan pacarmu sebagai nomor 4 dalam hidupmu. Setelah Allah, Keluarga dan Teman. Apabila kamu sudah menjadikan pacar mu sebagai nomor 4 dalam hidup mu maka saat dia pergi kamu tidak akan sakit hati karna masih ada Alla, Keluarga dan Teman disampingmu dan biasanya ini adalah tahap yang paling sulit untuk dilalui.

 Kenapa harus seperti itu? kalau kalian pisah kalian tidak akan sepenuhnya menyesal karna sebelumnya kalian sudah melakukan yang terbaik untuk dia mulai dari memperlakukannya dengan baik dan menjadikannya satu-satunya. Kalau sampai dia pergi itu urusannya, berarti dia orang yang bodoh karna telah meninggalkan orang yang tulus mencintainya. Dan kalau pun mereka pergi masih ada ALLAH, keluarga dan teman yang selalu siap mendampingimu.

Monday, 3 June 2013

Awal Mula Dunia Sihir



Awal Mula Dunia Sihir
Magic telah dipraktekkan untuk waktu yang sangat lama. Bahkan kembali sejauh 50.000 SM Dapatkah Anda percaya, 52.000 tahun yang lalu sihir dimulai?


Orang yang dikubur gua Prasejarah beruang mungkin mulai "ajaib". Mereka mungkin melakukan ini sebagai ritual sihir (mantra). Para ilmuwan yakin gambar-gambar dan ukiran adalah bentuk sihir. Sebagai contoh, mungkin akan menarik pemburu binatang atau adegan berburu sebelum melanjutkan perjalanan berburu. Mereka mungkin percaya bahwa gambar akan datang untuk hidup saat mereka pergi. Mereka percaya pada kekuatannya tetapi tidak jadi, AOT benar-benar bekerja. Dengan menggambar adegan mereka memberi diri mereka rasa percaya diri. Itu sihir mereka. Mesir Kuno, Yunani, dan Romawi, AOS sihir
Mesir kuno digunakan jimat, tokoh sihir, dan ritus sebagai sihir mereka. Magic sangat penting bagi mereka karena mereka percaya bahwa itu akan memberikan mereka dengan tanaman, hukuman, dan penghargaan, dan menjaga firaun bahagia. Kuno Yunani dan Romawi mencoba menceritakan masa depan melalui mimpi dan bola kristal. Mereka juga berkonsultasi imam untuk mendapatkan informasi dari dewa mereka. Abad pertengahan
Selama Abad Pertengahan, orang Eropa sangat percaya pada sihir. Hampir semua orang Eropa percaya pada kekuatannya. Pada saat yang sama mereka juga pikir itu dosa. Pada waktu itu alkemis (ahli kimia) Hasil pencarian untuk dua zat yang sangat berharga, batu filsuf dan obat mujarab kehidupan. Batu filsuf diyakini untuk mengubah besi, timah, dan logam lain menjadi emas. Obat mujarab kehidupan adalah suatu zat ajaib yang bisa menyembuhkan penyakit dan memperpanjang hidup. 1500, AOS-1700, AOS
Dari 1500-untuk the1700's, keyakinan dalam sihir lanjutan menyebar ke seluruh dunia. Bahkan yang berpendidikan tinggi orang percaya dalam kekuasaannya. Sebagai contoh, Sir Isaac Newton mempelajari alkimia. Orang-orang pada saat ini sudah lelah sihir.
Orang percaya Anda bisa melihat orang, karakter AOS dalam banyak hal, seperti belajar orang, tangan AOS, fitur wajah, atau bahkan tahi lalat pada kulit mereka. Setelah sekitar 1.600 sihir hilang perhatian kita karena kemajuan ilmiah. Para ilmuwan mengungkapkan bahwa sihir itu tidak nyata, itu adalah pikiran kita trik bermain.

Magic hari ini hari ini Magic adalah cara yang berbeda dari ratusan tahun yang lalu. Beberapa orang masih percaya pada ilmu sihir atau masih membaca horoskop mereka di koran harian, tapi kita kebanyakan menggunakannya sebagai hiburan.
Markas Besar
London
Pemimpin
Menteri Sihir
Musuh
Orde Phoenix (pada buku kelima dan ketujuh), Laskar Dumbledore (pada buku kelima dan ketujuh), Pelahap Maut
Pertama disebut
Pertama tampil
Kementrian Sihir adalah pemerintahan fiksi di seri Harry Potter. Pertama disebut pada Harry Potter and the Philosopher's Stone, tapi penampilan pertama pada Harry Potter and the Order of the Phoenix. Terletak di jauh bawah tanah London. Kementerian Sihir adalah sebuah sistem pemerintahan sihir satu atap yang memadukan eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Untuk masuk gedung Kementerian, seseorang harus menghubungi nomor 62442 ("MAGIC") di sebuah telepon umum yang disihir dan menyatakan nama serta tujuan. Menurut J.K Rowling, negara-negara lain juga memiliki Kementerian Sihir-nya sendiri.

Hubungan ke dunia Muggle

Setiap Perdana Menteri Muggle menerima kunjungan dari Menteri Sihir, yang memberitahu kepadanya atau bahwa kepadanya dunia sihir itu ada. Dia menjelaskan bahwa dia akan menghubungi Perdana Menteri hanya dalam keadaan di mana kejadian-kejadian dunia sihir dapat mempengaruhi Muggle. Misalnya, Menteri harus memberitahu Perdana Menteri jika artefak magis berbahaya atau binatang untuk dibawa ke Inggris [2]
Kementerian terus berhubungan dengan Perdana Menteri Inggris melalui Lukisan Penyihir di kantor Perdana Menteri di 10 Downing Street. Lukisan ini tidak dapat dilepaskan dari dinding karena adanya Mantra Perekat Permanen dan berfungsi memberitahu Perdana Menteri Menteri untuk kedatangan menteri sihir. [HP6] Para Menteri Sihir yang muncul dalam serial, seperti Cornelius Fudge dan Rufus Scrimgeour, cenderung untuk bertindak dalam cara yang agak merendahkan terhadap Perdana Menteri Muggle.
Sebelum adanya Kementerian, terdapat suatu badan yang disebut "Dewan Penyihir" menjalankan tugas-tugas pemerintahan untuk dunia sihir Harry Potter.

Struktur Pemerintah dan Sifat Korup

Dalam Harry Potter, karyawan Departemen tampaknya sebagian besar tidak terpilih. Jabatan Menteri itu sendiri, bagaimanapun, adalah dinyatakan sebagai posisi terpilih [3]. Karyawan Kementerian dapat dimutasi dari departemen yang satu ke departemen yang lain, tergantung kinerja atau keperluannya atas keputusan kepala departemen dan Menteri. Siapa atau badan apa yang memiliki kekuasaan untuk memilih atau memecat Menteri tidak pernah dijelaskan. Namun, baik Menteri dan Departemen secara keseluruhan pada seluruh seri Harry Potter menjadi sangat sensitif terhadap (dan bergantung pada) opini publik, yang mereka berusaha untuk mempengaruhi melalui Daily Prophet, koran penyihir (yang dalam cerita terlihat sebagai corong pemerintah). Dalam cerita, pekerjaan di Kementerian dapat diperoleh tepat setelah selesainya pendidikan sihir [HP4], meskipun kantor dan Departemen yang berbeda memerlukan berbagai tingkat pendidikan dan hasil ujian tertentu yang berbeda.
Selanjutnya, sepanjang cerita, Kementerian tampak korup, tidak kompeten dan terkesan menutup diri terhadap ancaman-ancaman di dunia sihir. Sebagai contoh. Kementerian tidak mampu untuk mendeteksi atau mencegah penyusupan dan serangan di Departemen Misteri, yang merupakan departemen yang paling dijaga ketat. Karena kurangnya keamanan, hanya sekelompok siswa Hogwarts (para perwira Laskar Dumbledore), serta Voldemort, selusin Pelahap Maut dan Orde Phoenix yang semuanya diinginkan oleh pemerintah mampu masuk departemen dan tanpa respon apapun, bahkan dapat masuk sebagai "misi penyelamatan" tanpa menarik perhatian. [HP5] Contoh lainnya adalah ketidakmampuan pemerintah dalam menanggapi dan mengatasi serangan-serangan pada Perang Sihir Pertama (dekade 1970an - 1981), meskipun telah mengambil sejumlah tindakan seperti pemberian lisensi membunuh untuk para Auror. Ini disebabkan jumlah Auror dan aparat keamanan lainnya yang kurang dan banyaknya agen-agen atau kolaborator Pelahap Maut di Kementerian, serta aliansi Voldemort dengan raksasa dan manusia serigala (yang tertindas oleh kebijakan Kementerian sendiri). Hal ini diperburuk dengan kenyataan bahwa banyak kebijakan Kementerian yang sifatnya konservatif, tidak sesuai perkembangan jaman dan lebih pro golongan darah murni, yang sepanjang cerita dianggap sebagai "kaum elit" (seperti keluarga Malfoy). Hal inilah yang direformasi oleh menteri baru pasca kekalahan Voldemort.
Ketika diwawancarai, Rowling menyatakan bahwa ketika Harry, Ron, Hermione dan beberapa kawan-kawannya bekerja untuk Kementerian, Kementerian telah mereformasi dirinya dan kecenderungan korupsi sudah berkurang.

Sistem hukum dan peradilan

Seperti Kementerian secara keseluruhan dalam cerita, sistem hukum dan pengadilan sihir menunjukkan tanda kebobrokan, ditandai kurangnya kemauan mencari bukti untuk atau terhadap tersangka yang disidangkan, bahkan mengandalkan prasangkapribadi maupun publik untuk memutuskan hasilnya secepat mungkin [HP5]. Bahkan, tidak semua tersangka diadili, seperti dalam kasus Sirius Black.[HP4] Pada saat, Kementerian juga bisa tampak tertarik dalam memecahkan masalah yang serius secara hukum dan bukannya mencoba menutupinya. Dalam Harry Potter dan Kamar Rahasia, Menteri Fudge perlu waktu lama untuk menanggapi serangan terhadap Hogwarts. Dalam episode kelima, Fudge menolak untuk percaya bahwa Lord Voldemort telah kembali, meskipun terdapat bukti kuat, dan Kementerian bahkan mengadakan kampanye untuk merusak kredibilitas Harry Potter, yang didorong rasa ketakutan yang keliru bahwa Albus Dumbledore menginginkan jabatan Fudge. Akhirnya, Kementerian dipaksa mengakui keadaan bahaya tersebut dan bertindak setelah pertempuran di Departemen Misteri. Fudge diberhentikan dari jabatannya akibat kelalaian dalam memerintah dan digantikan oleh Rufus Scrimgeour.
Kemudian, di episode terakhir, ketika Kementerian jatuh ke tangan Pelahap Maut, sistem peradilan pun dijadikan perpanjangan tangan rezim teror ini. Untuk mendata dan kemudian memenjarakan penyihir-penyihir kelahiran muggle, sesuatu yang dibenci Pelahap Maut, dibentuklah suatu komisi bernama Komisi Pendaftaran Kelahiran Muggle[4]. Dikepalai Dolores Umbridge, komisi ini mencari, menyidangkan, dan memenjarakan atau bahkan membunuh dengan tanpa belas kasih para penyihir kelahiran muggle atau darah pengkhianat yang tidak bersalah. Hal ini serupa dengan tindakan Holocaust di masa Nazi Jerman. Bahkan, mereka diburu hingga ke seluruh Inggris oleh regu polisi rahasia yang disebut Pencopet (Snatchers), serupa dengan Gestapo pada masa Nazi, Kempetaidi masa Kekaisaran Jepang pada Perang Dunia II atau polisi-polisi rahasia di bekas negara-negara Blok Timurseperti KGB Soviet atau Stasi Jerman Timur[5].
Setelah kekalahan Voldemort, sistem hukum dan peradilan sihir telah mengalami reformasi besar-besaran, dimotori beberapa reformis seperti Hermione Granger, yang berhasil menghapuskan beberapa undang-undang sihir yang pro darah murni.

Menteri Sihir

Cornelius Fudge, menteri sihir pada tahun 1990 hingga 1995.
Pada penutupan seri, Menteri Sihir di Inggris adalah seorang mantan anggota Orde Phoenix yaitu Kingsley Shacklebolt. Dia menggantikan boneka Voldemort Pius Thicknesse, yang telah ditempatkan di bawah Kutukan Imperius dan ditempatkan sebagai menteri setelah Voldemort membunuh Scrimgeour, yang menggantikan Fudge. Pada masa Kingsley, Kementerian mengadakan reformasi besar-besaran dan merombak sistem lama yang cenderung konservatif dan pro darah murni. Berikut ini adalah daftar Menteri Sihir dan masa jabatannya: HP [6]
  • Eldritch Diggory (?�?) (Kemungkinan ada hubungan keluarga, atau leluhur Cedric Diggory)
  • Lorcan McLaird (?�?)
  • Dugald McPhail (?�?)
  • Evangeline Orpington (?�?)
  • Artemisia Lufkin (1798�1811)
  • Grogan Stump (1811�1819)
  • Faris "Spout-Hole" Spavin (1865�1903)
  • Ottaline Gambol (1930s)
  • Nobby Leach (1962�1968)
  • Millicent Bagnold (1980�1990)
  • Cornelius Fudge (1990�1996)
  • Rufus Scrimgeour (1996�1 Agustus 1997)
  • Pius Thicknesse (1 Agustus 1997 - 2 Mei 1998) (di bawah pengaruh Voldemort dengan menggunakan Kutukan Imperius, Kemungkinan tewas di Pertempuran Hogwarts, dipenjarakan di Azkaban, melarikan diri, atau dieksekusi segera setelah pertempuran Hogwarts. Dalam film, ia dibunuh oleh Voldemort.)
  • Kingsley Shacklebolt (setelah 1998)

Tingkatan-tingkatan

Beberapa pejabat Kementerian dalam Harry Potter dan Orde Phoenix, dari kiri ke kanan: John Dawlish (Auror), Dolores Umbridge (Asisten Senior Menteri); Cornelius Fudge (Menteri Sihir) dan Kingsley Shacklebolt(Auror).
Tingkatan lantai Kementerian Sihir adalah seperti berikut: Karena berada di bawah tanah, semakin besar nomor tingkatan, semakin dalam tingkat tersebut.
  • Tingkat 1 - Menteri Sihir dan Staf Pendukungnya. Ekuivalen dengan kepala negara/kepala pemerintahan dengan kabinetnya.
  • Tingkat 2 - Departemen Pelaksanaan Hukum Sihir. Salah satu departemen terpenting. Departemen ini bertugas membuat dan menegakkan hukum sihir dalam kehidupan bermasyarakat sihir. Ekuivalen dengan sistem hukum, peradilan, kepolisian, dan militer di dunia Muggle (manusia biasa), seperti Kejaksaan, Polri, dan TNI. Atau dapat disamakan dengan Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia dan atau Kementerian Pertahanan di Indonesia. Menurut J.K Rowling, setelah sukses di Departemen Pengawasan Makhluk Gaib, Hermione pindah ke departemen ini dan berhasil mereformasi hukum sihir yang rata-rata pro darah murni dan ketinggalan jaman.
    • Kantor Penggunaan Sihir tidak pada Tempatnya. Bertugas mendeteksi dan menindak kaum penyihir yang meggunakan sihir tidak pada tempatnya, dan tidak pada waktu yang tepat (apalagi di depan muggle).
    • Markas Besar Auror. Pasukan elit penyelidik dan pemburu penyihir jahat beresiko tinggi (dan diperbolehkan untuk membunuh jika diserang). Harry Potter bergabung dengan korps ini pada usia 18 tahun (1998) dan pada tahun 2007 diangkat menjadi pucuk pimpinan tertingginya. Ron Weasley juga masuk korps ini. Ekuivalen dengan tentara (terutama pasukan khusus). Juga bisa disamakan dengan gendarmerie (militer yang bertugas sebagai polisi di lingkungan sipil), di negara-negara Eropa daratan.
    • Kantor Pelayanan Administrasi Wizengamot, parlemen dan pengadilan di dunia sihir.
    • Kantor Penyalahgunaan Barang-barang Muggle. Arthur Weasley bekerja di sini[HP1]. Bertujuan untuk mengawasi dan mengatur penggunaan dan eksperimentasi barang-barang muggle oleh kaum penyihir.
    • Pasukan Penegakan Hukum Sihir. Bertugas menindak pelanggaran hukum sihir sehari-hari (semacam polisi). Pasukan ini juga memiliki kelompok khusus pemburu kriminal berbahaya, yang dinamakan Hit Wizard[7], yang ekuivalen dengan unit-unit polisi khusus seperti Brimob di Indonesia atau CO19 di Inggris.
  • Tingkat 3 - Departemen Kecelakaan dan Bencana Sihir. Bertugas menanggulangi dan memperbaiki kerusakan fisik akibat sihir, terutama jika menarik perhatian muggle.
    • Departemen Pembalikan Sihir tak Sengaja
    • Markas Besar Pelupaan. Bertugas memodifikasi ingatan muggle-muggle yang menjadi saksi sebuah bencana atau kejadian berbau sihir.
    • Komite Alasan Layak-Muggle. Bertugas memberikan alasan yang "masuk akal" terjadinya bencana berbau sihir kepada otoritas Muggle (jika terlihat oleh muggle)
  • Tingkat 4 - Departemen Pengaturan dan Pengawasan Makhluk-Makhluk Gaib. Bertugas untuk mengatur dan mengendalikan makhluk-makhluk sihir yang hidup di dunia sihir, terutama untuk tidak menarik perhatian muggle. Hermione Granger memulai karirnya di sini pasca Hogwarts dan berhasil memperjuangkan persamaan hak makhluk sihir non-manusia (terutama peri rumah dan manusia serigala), dengan penyihir (manusia). Karakter Harry Potter lain yang pernah bekerja di sini adalah Amos Diggory, ayah Cedric Diggory[HP4]. Walden MacNair, seorang Pelahap Maut, bekerja di sini sebagai eksekutor di Komite Pemusnahan Makhluk Berbahaya[HP3][HP5].
    • Divisi Hewan
    • Divisi Makhluk
    • Divisi Hantu
    • Kantor Hubungan Goblin
    • Biro Penasihat Hama
    • Biro Pendaftaran dan Pengaturan Manusia Serigala
    • Biro Pendaftaran dan Pengaturan Naga
    • Kantor Hubungan Centaurus. Dalam cerita, ada humor yang menyatakan bahwa jika seorang karyawan dimutasi ke departemen ini, ini berarti bahwa ia akan segera dipecat[8], karena nyaris tidak ada pekerjaan yang penting dalam departemen ini. Apalagi, tidak pernah ada centaurus yang bekerja di departemen ini sejak pembentukannya.
    • Komite Pemusnahan Makhluk Berbahaya
  • Tingkat 6 - Departemen Transportasi Sihir. Bertugas mengatur hal-hal mengenai transportasi sihir. Ekuivalen dengan Kementerian Perhubungan.
    • Otoritas Jaringan Floo
    • Pengendalian dan Pengaturan Sapu
    • Kantor Urusan Portkey
    • Pusat Ujian Apparation
  • Tingkat 7 - Departemen Permainan dan Olahraga Sihir. Bertugas mengatur dan mengorganisasi pergelaran olahraga seperti Piala Dunia Quidditch dan Turnamen Triwizard. Tergolong departemen paling "santai" dibanding departemen lainnya. Ekuivalen dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga.
    • Markas Besar Liga Quidditch Inggris dan Irlandia
    • Klub Gobstones Resmi
    • Kantor Paten Barang-Barang Menggelikan
  • Tingkat 8 - ATRIUM
    • Ruang Tamu
    • Air Mancur
    • Meja Pengawal Keselamatan
    • Lift
  • Tingkat 9 - Departemen Misteri. Paling dijaga ketat dan kerja departemen ini tergolong rahasia, ekuivalen dengan badan intelijen (contohnya BIN, CIA, atau MI6) di dunia nyata. Tetapi, pegawai dan pejabatnya lebih mengarah kepada ilmuwan, karena mereka meneliti beberapa hal yang bersifat abstrak seperti cinta, ruang, waktu, pikiran, dan kematian), dan juga menyimpan ramalan-ramalan penting, terutama yang menentukan nasib dunia sihir[HP5]. Pegawai departemen ini disebut Unspeakable (Tak-Bisa-Dikatakan), dan identitas mereka dirahasiakan untuk perlindungan. Augustus Rookwood, seorang Pelahap Maut, pernah bekerja di sini.
    • Ruang Kematian. Di sinilah tempat Sirius Black terbunuh[HP5].
    • Ruang Otak
    • Ruang Ramalan
    • Ruang Terkunci di Departemen Misteri
    • Ruang Waktu